Halaman

Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2015

Sahabat Instan

Kisah ini berawal dari pertemuan tiga orang gadis di sebuah SMA, tahun ajaran baru tepatnya saat mereka sedang menjalani Masa Orientasi Siswa atau kerennya biasa di sebut MOS. Ketiganya punya karakter yang berbeda, namun perbedaan itu tak membuat mereka bersaing ataupun bertengkar, malah membuat mereka menjadi akrab dan bersahabat. Ya seperti kalimat yang di cengkram oleh burung Garuda di Pancasila Indonesia “BHINNEKA TUNGGAL IKA” berbeda-beda tetap satu, hehehe.

Senin pagi tepatnya hari pertama MOS di SMAN 2 Sijunjung, sekitar pukul 6 lewat 45 menit pagi terlihat seorang gadis duduk di teras pos security sekolah yang ada di dekat gerbang, sambil membaca sebuah novel. Beberapa menit kemudian dia dikagetkan oleh seorang gadis yang juga siswi baru seperti dirinya, disinilah awal pertemuan mereka.
“hey…! sendirian aja” sapa seorang gadis dengan gaya tomboynya.
“eh, hey…! Iya nih” ujarnya kaget “belom ada yang datang kayaknya. Lagi pula aku disini siswi baru, jadi belom terlalu kenal gitu”
“sama dong, gue juga siswi baru” tutur gadis tomboy itu. “oh ya, kenalin gue Vandry” mengulurkan tangannya.
“aku Cha-Cha” menyambut uluran tangan Vandry si gadis tomboy. “by the way, tamatan SMP mana Van?”
“gue dari SMPN 7, kalau loe?”
“oo… SMPN 7 yang deket SMAN 1 itu ya” gumam Cha-Cha. “aku dari SMPN 1”
“hai…! Sorry ganggu” sapa seorang gadis yang sepertinya baru datang. “hmmm…! Siswa siswi yang mengikuti MOS ngumpulnya dimana ya?”
“belom ngumpul kayaknya, kita berdua kan juga ikut MOS” ujar Vandry.
“syukur…! Aku nggak terlambat” tersenyum senang. “akhirnya bisa juga aku datang pagi ke sekolah”
“memangnya dulu kamu sering terlambat ya?” Tanya Cha-Cha.
“nggak sering lagi, udah langganan. Hehehe” canda gadis itu. “eh, kenalin aku Flora dari SMPN 22 sijunjung, kamu?”
Menyambut uluran tangan Flora. “aku Cha-Cha dari SMPN 1”
“yang di sijunjung itukan?”
“iya, kamu pernah kesana?” keasikan ngomong berdua.
“ehm…! Gue dicuekin nih ceritanya” canda Vandry. “gitu ya, kalo dua gadis udah ketemu ngogosip deh. Hehehehe”
“sorry Van, eh kenalin Vandry”
“aku Flora” menyambut uluran tangan Vandry.

Keasikan ngobrol, mereka jadi lupa waktu sehingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit, waktunya untuk semua siswa dan siswi SMAN 2 juga gurunya melaksanakan upacara bendera yang rutin dilakukan setiap senin pagi. Dan pagi ini setelah upacara akan dilanjutkan dengan pembukaan MOS bagi siswa siswi baru. Hampir pukul 9 pagi, acara pembukaan MOS baru saja selesai dan seluruh peserta upacara dibubarkan oleh komandan.
“para junior yang akan melaksanakan MOS diberikan waktu 30 menit untuk istirahat” begitu suara ketua OSIS terdengar melalui pengeras suara.

Selama 30 menit mereka beristirahat melepas penat karena berdiri tadi, kebanyakan dari mereka memilih beristirahat di taman sekolah yang lumayan teduh duduk bergerombol dan bercanda sambil mengenal teman-teman baru. Semtara itu para senior bukan anggota OSIS atau panitia MOS seperti biasa, menjalani proses belajar mengajar di kelas masing-masing.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat 30 menit berlalu begitu saja, sebelum MOS dilaksanakan ketua OSIS mengumpulkan para junior untuk diberikan informasi dan tata tertib selama MOS.
“Assalamu’alaikum” sapa ketua OSIS begitu berisan para junior terbentuk.
“Walaikum salam”
“adik-adik semua, hari ini adalah hari pertama kalian mengikuti kegiatan MOS di SMAN 2 sijunjung ini, seperti tahun-tahun sebelumnya MOS diadakan selama satu minggu, dan selama mengikuti MOS itu kalian semua akan kami bimbing untuk mengenal lebih dekat sekolah ini” jelas Tofan si ketua OSIS. “dan kalian akan di bagi menjadi beberapa gugus”
Dengan tergesa-gesa. “Fan, Tofan barusan gue dapat informasi dari kepsek kata beliau MOS tahun ini diadain di luar sekolah, Biar lebih deket sama alam” jelas Kimmy wakil ketua OSIS yang tomboy.
“ide bagus juga tuh, kapan berangkatnya?”
“Tya tadi kepsek bilang nggak kapan berangkatnya?” ujar Kimmy menoleh ke arah Aditya yang tadi ditinggalkannya.
“sebenarnya sih hari ini, Cuma karena kepsek belum kasih tau sama loe jadi di undur besok” tutur Aditya.

Sesuai dengan hasil rapat guru dan OSIS mambahas tentang tempat yang tepat diadakannya MOS atau perkemahan selama satu minggu kedepan. Selasa pagi yang cerah seluruh junior dan senior serta guru pendamping telah berkumpul di lapangan sekolah menunggu kedatangan bus yang akan mengantar mereka ke tempat perkemahan yang telah disepakati kemarin. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, satu per satu dari 10 bus yang ditunggupun datang dan siap mengantar para penumpangnya ke tempat tujuan. Dalam perjalanan dari bus para senior terdengar canda tawa dan sesekali diselingi dengan nyanyian kebangsaan Indonesia, berbeda dengan bus yang membawa para junior kebanyakan dari mereka memilih untuk diam dan ada juga yang terlihat ketegangan di wajah mereka.

Kira-kira 2 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan yang masih sangat asri dan memang sering digunakan sebagai tempat perkemahan. Setelah beristirahat sebentar melepas lelah, kesibukan terlihat di setiap kelompok. Dengan semangat mereka membangun tenda bersama-sama sehingga junior yang tadinya tegang terlihat lebih santai menikmati suasana alam nan sejuk dan asri.
“hai Cha, ketemu lagi”
“iya Flo, kebetulan banget ya kita bisa satu gugus”
“hmmm…! by the way si tomboy kok nggak keliatan ya Cha” ujar Flora.
“eh, ntar loe pada malah dimarahin sama senior. Ngerumpi aja” terdengar suara Vandry dari arah belakang tenda.
“dek…! Siapa yang suruh kalian ngobrol? Kerjaannya udah selesai belom” Aditya menghampiri mareka.
“ini kak, tinggal…!” Ujar Flora.
“kalo gitu buruan dikerjain” teriak Kimmy yang juga menghampiri tenda Cha-Cha, Flora dan Vandry.

Tenda siap didirikan waktunya istirahat yang kedua di lokasi perkemahan sebelum memulai aktivitas selanjutnya, lokasi perkemahan yang asri membuat kagum para pengunjung yang datang kesana termasuk junior dan senior SMAN 2 yang kini melaksanakan kemping dalam rangka menyambut siswa baru di sekolah mereka. Di deretan tenda junior terlihat mereka duduk bergerombol sambil bercanda namun ada juga yang memilih istirahat di dalam tenda mereka.
“duuh…! capek banget deh”
“alah, baru segitu aja sudah capek loe Cha” canda Vandry.
“Cha, Van, bagi minumnya dong” Flora memperlihatkan botol minumnya. “minum aku abis”
“nih anak lagi, Cha kasih minum loe deh. Gue butuh banyak cairan” canda Vandry.
“nih Flo, tadi aku bawa lebih kok”
Asik bercanda ditendanya, Cha-Cha, Flora, dan Vandry dikagetkan dengan kedatangan seorang junior yang mengatakan kalau mereka di panggil oleh senior supaya segera datang ke tenda senior.
“eh, tadi kalian bertiga di panggil ketua OSIS”
“what? Kita bertiga di panggil? Ada apa emangnya feb” tutur Vandry.
“nggak tau aku Van, mending kalian buruan kesananya, ntar kena marah lagi loh” kata Febri.
Dengan tanda tanya di pikiran masing-masing, ketiga gadis itu berjalan menuju tenda senior dimana Tofan, Kimmy, dan Aditya berada yang terlihat sudah menunggu kedatangan mereka bertiga. Melihat tiga junior itu berjalan santai ke arah mereka.
“dek…! Kalau di panggil tu jalannya yang cepet, jangan lelet kayak siput gitu” teriak Aditya.
Mendengar teriakan dari senior mereka spontan ketiganya mempercepat langkah dengan berlari, beberapa saat kemudian tiga junior itu telah berkumpul di depan tenda senior. Dan ternyata mereka di hukum senior karena suka ngerumpi saat bekerja yang tadi sempat dimarahi oleh Aditya dan Kimmy.
“kalian tau kenapa kalian di panggil kesini?” kata Tofan (dengan nada khasnya para senior saat MOS)
“jawab dek, kok malah diam” bentak Kimmy.
Ketiganya tak menjawab tapi Cuma tertunduk dan menggeleng. “jadi kalian tidak tau. Ok kakak kasih tau ya, kalian bertiga ini suka bermain-main saat diberikan tugas oleh senior” jelas Tofan.
“dan karena itu, kami sebagai pendamping di gugus kalian akan memberikan hukuman atas kelakuan kalian tersebut” sambung Kimmy.
“Fan, loe deh yang kasih tau mereka hukumannya” ujar Aditya.
“hukuman untuk kalian yang telah kami sepakati adalah kalian harus mengumpulkan kayu bakar untuk persediaan gugus kita selama disini”
“tapi kita kan Cuma ngobrol kak” protes Vandry.
“iya kak, dan tugas kita selesai kok” timpal Cha-Cha.
“ngobrol atau tidak yang penting senior melihat kalian melakukan kesalahan dan harus di hukum. Mengerti?” kata Aditya.
“kalian nggak tau ya, kalau OSIS punya tiga pasal MOS” kata Kimmy. “yang pertama senior tak pernah salah, kedua semua barang milik junior adalah milik senior, dan yang terakhir apabila senior salah kembali ke pasal satu”
“denger nggak dek…!” Seru Tofan.

Setuju atau tidak, Cha-Cha, Flora, dan Vandry harus menjalankan hukuman yang diberikan senior pendamping kepada mereka. Hari pertama mereka lewati dengan lancar mungkin karena jebakan yang diberikan senior tak begitu rumit sehingga mereka bisa melewatinya dengan mudah juga karena disana ada si tomboy Vandry. Begitupun dengan hari-hari selanjutnya mereka bisa kembali keperkemahan tepat pada waktunya, hingga hari terakhir senior tomboy “Kimmy” mendapat ide untuk mengerjai ketiga junior mereka.
“eh Fan, gue punya ide nih” kata Kimmy saat mereka istirahat di bawah pohon yang rindang di pinggir perkemahan.
“ide apaan Kim?” jawab Aditya
“iya, ide apaan?” balas Tofan. “bukankah selama ini mereka selalu lolos dari ide kita semua”
“yang ini di jamin berhasil deh, tapi agak ekstrim dikit”
“apaan memangnya” Aditya penasaran.
“gimana kalau kita ubah petunjuk jalannya? Ya kita ganti arah tanda panah gitu”
“kasian dong Kim, ntar anak orang kenapa-napa di hutan gimana” kata Tofan.
“gue setuju Kim, nggak bakalan deh Van, loe tenang aja”

Keesokkan harinya seperti biasa tiga junior yang bersahabat itu menjalani hukuman mereka, setelah makan siang mereka berangkat ke hutan seperti biasa dengan bekal air putih dan sedikit camilan di tas masing-masing. Mereka tak berpikir kalau jebakan kali ini akan membuat mereka jadi tersesat ke dalam hutan yang lebat karena mengikuti arah yang salah.
“Cha, Van, kita balik yuk. Udah cukup nih”
“iya nih, lagian juga sudah sore” balas Cha-Cha. “ayo Van…!”

Mereka berjalan sambil bercanda menyusuri jalanan setapak menuju perkemahan (menurut mereka), tak terasa jalan setapak yang mereka lalui semakin berhutan lebat hingga di suatu tempat Cha-Cha menyadari kalau mereka tersesat.
“Van, Flo, tunggu deh” memegang kedua lengan sahabatnya yang ada didepannya sambil melirik ke sekeliling. “kita dimana?”
“Cha-Cha, emang kamu pikir kita dimana? Di mall gitu” ujar Flora dengan nada cueknya. “ya kita di hutan lah”
“eh Flo tunggu deh” sadar mereka tersesat.
“aduh Van, kamu mau mikir juga, kita lagi di mall” tetap cuek dan terus melangkah.
“tunggu Flo, loe mau kemana. Kayaknya kita tersesat Flo ini bukan jalan keperkemahan”
“masa sih Van” berhenti dan memandang sekililingnya. “oh my god, gimana nih?”
“kamu sih, dari tadi dibilangin nggak percayaan” sewot Cha-Cha.
“udah ah Cha, trus sekarang baiknya gimana?” Tanya Vandry.
“hmmm…! menurut aku sih, kita balik aja ke jalan tadi” sikap cueknya kembali lagi.
“aduh Flora, itukan jauh mau kamu kemalaman di hutan lebat kayak gini?”
“ya trus harus gimana, memang kalian sudah pernah masuk hutan ini sebelumnya? Belum kan? Apalagi kamu Cha anak rumahan”
“udah lah Flo, Cha, nggak usah bertengkar. Dulu gue pernah jelajahi hutan nih bareng kakak gue, dan kalau nggak salah di dekat sini ada jalan setapak lain yang menuju keperkemahan” jelas Vandry.
“bener Van” serentak (Cha-Cha dan Flora).

Mereka terus berjalan menyusuru jalan setapak di pinggir jurang yang menurut Vandry jalan lain yang menuju ke arah perkemahan di tepi hutan itu, Cha-Cha yang memang agak ceroboh tak memperhatikan langkahnya hingga tersandung ranting yang ada di jalan setapak.
“Cha…! Awas…!” teriak Flora dan Vandry bersamaan.
Kaget mendengar teriakan dua sahabatnya. “aaa…!” untung tangannya berhasil meraih sebatang pohon kecil di tepi jurang.
Langsung berlari kearah Cha-Cha. “Flo, bantuin gue dong”
Dengan susah payah mereka membantu Cha-Cha yang hampir jatuh ke dasar jurang itu, namun dengan semangat kebersamaan mereka berhasil menarik tubuh Cha-Cha kembali ke jalanan setapak, dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Kali ini Cha-Cha lebih berhati-hati dengan langkahnya. Tak terasa si Raja siang sudah meninggalkan bumi dan berganti posisi dengan Raja Malam, ketiga sahabat itu terus berjalan menyusuri jalan setapak yang tak kunjung bertemu ujungnya itu.

Sementara itu diperkemahan terlihat Tofan, Kimmy, dan Aditya duduk berkumpul di depan tenda Tofan, di lihat dari raut wajah mereka sepertinya cemas karena tiga junior yang mereka hukum tak kunjung sampai diperkemahan. Saat itu pukul 7 lewat 30 malam, mereka memutuskan untuk mencari adik-adik mereka yang tersesat itu dengan di bantu oleh beberapa orang senior lain juga beberapa orang guru yang mendampingi kegiatan itu.

Kita kembali pada tiga junior malang yang ada di tengah hutan lebat tadi, dengan diterangi cahaya sang rembulan yang menembus celah-celah dedaunan Cha-Cha, Flora, dan Vandry terus berjalan mengikuti jalan setapak yang kini mulai terlihat ujungnya. Dan mereka sampai diperkemahan tepat saat rombongan yang akan mencari mereka berangkat ke hutan.
“Flo, Cha, liat deh” menunjuk ke arah depannya. “kita hampir sampai”
Dengan perasaan senang karena sudah melihat perkemahan mereka mempercepat langkah. Begitu sampai diperkemahan mereka langsung di hampiri oleh Tofan, Kimmy, dan Aditya yang merasa cemas terhadap mereka.
“maaf kak, kita terlambat” tutur Flora.
“biasa aja lah, gimana keliling hutannya? Asik” canda Kimmy.
“asik banget kak” balas Vandry. “dapat pengalaman baru”
“dasar dua makhluk tomboy ini” canda Tofan. “tersesat di hutan aja di bilang asik”
Semuanya tertawa. “maaf juga kak, kita nggak bawa kayu bakar” kata Cha-Cha. “abisnya berat tadi muter-muter”
“ya nggak apa-apa lah dek, malam ini kita kan terakhir disini” jelas Aditya. “ya udah kalo gitu mending sekarang kita gabung sama yang udah ngumpul di api unggun”
“yuk…!” Ajak Tofan.

Setelah acara penutupan perkemahan sekaligus penutupan Mos, paginya seluruh peserta disibukkan dengan aktivitas bersih-bersih dan persiapan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Tiga sahabat Cha-Cha, Flora, dan Vandry terlihat bersemangat sekali membersihkan area dimana mereka memasang tendanya, begitu juga dengan kelompok lain, tak terlihat lagi wajah tegang ataupun takut pada senior mereka yang ada hanyalah senyum persahabatan dan kekompakkan antara senior dan junior. Minggu sore bus yang kemaren mengantarkan mereka sudah sampai di lokasi dan akan mengantarkan mereka ke rumah masing-masing.

Senin pagi yang cerah, hari pertama Cha-Cha, Flora, dan Vandry menjadi siswi resmi di SMAN 2, mereka terlihat semangat saat tiga senior (Tofan, Aditya, dan Kimmy) yang kini akrab dengan mereka meminta mereka menjadi pelaksana upacara pertama setelah mereka resmi menjadi warga sekolah itu. Walaupun mereka tidak satu kelas (Cha-Cha di kelas X.2, Vandry di kelas X.3, sedangkan Flora di kelas X.4) namun persahabatan mereka tetap berlanjut sampai mereka lulus.?

Teror Beruang

Aku Icha, ketiga temangu Ria, Lia dan Sinta, kami adalah 4 sekawan. sekarang kami tersesat di hutan belantara. Ketika study tour akhir kelas 3, harus melakukan camping di hutan yang bertujuan untuk mempererat persaudaraan di antara kami, semua sesuai rencana, namun di sinilah kisah di mulai.

*MALAM SEBELUM TEROR*
(Ceritanya lagi tidur di dalam camp bro: -p)
Aku, Ria, lya dan juga Sinta, sedang tertidur lelap. ketika sebuah suara dari dalam hutan membangun kami, seperti anak kecil menangis. “masa ia sih? hutan ini ada orang buang anak?” pikir ku. kami saling melirik ingin tahu apa yang berada di sana, setelah berunding akhirnya kami diam-diam pergi mencari sumber suara, dan mungkin kesalahan yang ku sesali sampai sekarang, kami tidak minta izin pada kaka pembina.

Bemodal senter dan satu buah petromak kecil, kalau di hutan cuma ini yang bisa kami andalkan, dan juga jaket hangat melilit di tubuh, kupluk penghangat menghiasi kepala. Lebih mirip seperti penjaga vila di puncak, aku tertawa kecil melihat style temen-temangu yang extime itu.

Kami menyusuri gelap malam, suara hewan malan jelas hanya jangkrik dan beberapa hewan lain yang masih ronda, ini sangat sepi sekali, secara di hutan luas dan gelap, udara malam menambah angker suasana. sumber suara masih terdengar, perlahan makin kecil dan membesar kembali.
Lia: “pulang ajah yuk? merinding niiih gue?”
Ria: “ah dasar penakut lo!”
Shinta: “belum juga ketemu sumber suaranya, udah takut duluan. payah nih?
Icha: “diam dulu kenapa? belum juga jalan. baru 5 langkah nih *te… te… te… tetet. uut permatasari* udah pada takut, tuh liat camp kita ajah, masih ketinggalan!.
Shinta: “KELIHATAN KALI!” *kesal
icha: “itu maksudku!” *nganguk2

Suara langkah kaki terdengar dan menghilang lagi, kami terdiam dan terpana, belum apa-apa lia mau menangis. “dasar gorila cengeng alay” jawabku kesal. suara langkah kaki menghilang, mungkin saja itu adalah dahan yang jatuh, kami melanjutkan perjalanan. Sekarang suara bayi menangis tak terdengar lagi, mungkin kecapean menunggu kami, atau mungkin mamanya datang, Namanya juga cerpen. hanya terjadi dalam cerita

Ketika kami melanjutkan, lagi.. lagi.. lagi. Kami harus.. takut, terkejut, dan merinding, napasku rasanya akan terhenti, beruntunglah aku, karena lobang hidungku besar dapat menyedot udara lebih banyak, berbeda dengan Lia dan Sinta, hidung mereka mancung ke dalam, seperti hidung kingkong. ini mengakibatkan napas mereka sesak, apa lagi kami lupa membawa oksigen, Ria tertawa kecil memandanng mereka,

Di depan kami sesosok babi hutan berukuran raksasa dan 2 singa muda tewas tercabik-cabik. Daging babi hutan perutnya terburai dan tulangnya berceceran di tanah, belum lagi ke dua singa muda dengan kepala yang hancur, jangan tanyakan jenis kelaminnya, karena saya bukan dukun pemirsa.: -p
Di sertai cakaran pada tubuh mereka, daging singa itu sedikit amis dan kelihatan membiru, mungkin sudah beberapa hari mereka tewas

“Apa yang terjadi di sini?” kataku memandang sahabatku
ICha: “gimna kalau dagingnya kita bawah pulang, buat barang bukti, sekalian buat makan di rumah?, hahaha”
Lya: “mank kamu mau makan daging babi sama singa!, ini kan bulan puasa bro!”
Icha: “justru itu daging mahal bro..! *tertawa sinis penuh kemenangan,
Shinta: “tapi kira- kira apa ya?, yang menyababkan mereka tewas tercabik-cabik seperti ini?”
Ria: “mungkin di bunuh orang untuk lebaran?, daging mahal, daging babinya bisa di campur dengan daging sapi. ckckc, eh gimna kalau kita bakar ajah?, untuk makan malam kita! *ide buruk jangan di tiru*
Icha, lia, Sinta: “ggggrrrr, dasar otak bisnis! *gebukin shinta rame-rame*

Di saat kami sedang memperhatikan dan menganalisa keadaan korban BABI (jangan tersinggung lo) dan singa, kami di kejutkan sebuah Suara auman dari balik semak-semak. sebuah suara hewan malam, tepatnya sesuatu yang sangat menyeramkan, sangat keras sekali, seperti beruang *yang di nobatkan sebagai bintang paling kaya, kan ber-uang, kalau miskin bukan ber-uang tapi kere, kaya itu pilihan, miskin itu bukan nasib, tapi karena faktor malas. makanya nama mu ganti beruang, walau miskin ga akan di hina, terus kalau pacaran, cewe atau cwomu bilang “dasar buaya darat, kamu tinggal bilang seperti ini?. “aku bukanlah buaya, aku beruang kutub!”*

Ternyata benar perkiraanku, seekor beruang ganas, binatang besar dan tinggi sekitar dua meter muncul dari balik semak, matanya menyala dengan taring siap menerkam kami, aku menjatuhkan senter karena saking takutnya, aku dan ketiga temangu. lia, Ria dan juga Sinta tak bergerak. *yailah, kalau mereka berjoget gue tabok satu-satu, kalau dua-dua nanti gue yang di gebukin :-p, di situasi seperti ini lagi*.

kami saling berpandangan, menahan kaki yang mulai tak bisa di ajak kompromi untuk bergerak kabur.
Icha: “kalau aku hitung sampai tiga..”
Ria: “kita lanjutin ya!”
icha: “bukan begooo, kita kabuurlah, emang kita anak TK!” *kesal
Icha: “1… 2… 3… KABUUURR!”

Kami menyusuri jalan kembali pulang. jatuh terhempas dan berdiri lagi. Di belakang kami seekor beruang liar ganas dan kelaparan mengejar kami tanpa memberi waktu untuk kami memperkenalkan diri apa lagi menanyakan status hubungan kami di fb. *alfred koplak :-p
Pencahayaan yang kurang dan susana gelap malam. menjadi kesulitan kami, tak tau arah ke mana harus bergerak, ke mana kami melayangkan pandangan, kami benar-benar salah alamat.
*[teeeet.. teeet Ayu kingclong-alamat palsu]
Yang di benak kami saat ini terlepas dari binatang buas ini. “TEMAN-TEMAN KITA AKAAAN MATIII!” aku berteriak menembus malam, membangun para burung yang sedang bercinta dengan mimpi malam
“jangan bilang begitu…!, aku belum punya pacar dan mau menikah dulu, masa stastu jomblo terus di fb!” Lya menimpali sembari melemparku dengan balok di tangan. terlihat jelas betapa ia tak laku-laku. apa kami akan selamat dari binatang buas ini?

Malam gelap semakin larut, beruang yang kelaparan belum lelah mengejar kami, padahal ini yang Ngetik udah
Mau patah jarinya. Sampai akhirnya langkah kami terhenti. sebuah jurang sekitar dua meter dan di bawahnya sungai mengalir dengan kedalaman hampir 100 meter. kami berhenti. saling berpandangan, jantung memompa begitu cepat, tubuh kami sangat lelah. keringat menjalar jatuh.
Icha: “sekarang bagaimana?”
lya: “kta tidak mungkin lompat menyebrang, kalau sampai jatuh…?, kemungkinan besar kepala kita akan membentur batu di bawa sana, sia-sialah kita lari, dan sudah pasti cerpen ini tamat riwayatnya!
ria: “cara satu-satunya kita lompat menyebrang, berdoalah, supaya kita selamat dan jika mati nyawa kita di terima masuk surga bukan neraka?”
shinta: “dasar… bodoh!, tidak ada waktu lagi untuk berdoa, justru beruang itu yang akan berdoa duluan sebelum menikmati daging kita!”
Icha: “ok,! tidak ada pilihan lain’ selain kita harus terjun ke dasar sungai dan lebih baik berdoalah supaya tidak ada piranha di sana, yang tidak berani, silahkan di sini biar di santap beruang untuk berbuka pausa!” Aku berteriak sembari menerjunkan tubuhku ke jurang, aku menutup mata, berharap pada keajaiban ilahi. aku jatuh ke dasar sungai, hampir saja kepala ku membentur sebuah batu raksasa di depanku, sedikit lagi kepalaku membentur batu di depanku. aku merenang ke permukaan. di susul Sinta, kami berdua saling berpandangan, karena Lia dan Ria belum muncul. beberapa saat muncul Ria dengan benjol sebesar buah pepaya karena terbentur batu kerikil di dasar sungai.
Sinta: “kasihan banget, pasti banyak dosanya nih?” *tawa ngakak
Icha: “tapi di mana lia?, kok ga muncul-muncul?!”

Kami mencari sekeliling. tapi tidak ada, “Aaaaah Tolooong aku Broo!” sebuah suara menggema dari atas jurang. kami mencari datangnya sumber suara.
Aku, Ria dan Sinta tertawa Puas, jungkir balik, sambil makan linggis bagaimna tidak di atas sana, teman kami Lia, sedang tersangkut pada sebuah dahan. *pantas saja tidak jatuh-jatuh*
Dan di atasnya lagi, kira-kira 4 meter dari Lia. beruang melihat dengan mondar-mandir, jelas ia mencari cara untuk turun, mencoba meraih badan Lia yang tersangkut. sampai akhirnya ia pergi dan berlalu pergi. “ku harap ia tak kembali?” kata Lia marah-marah.
karena dahan pohon tak kuat menahan beban Lia akhirnya dahan itu patah, menjatuhkan seonggok manusia turun ke bumi dengan indahnya. bunyinya sangat dasyat, seperti ikan paus terdampar.

Kami menghampiri, menarik serta menolong Lia,
Lia: “ah,.. sialan banget tuh beruang!, masa aku mau loncat, dia tarik baju aku?, untung bisa lolos, hadeeeh… pait, paiit, kalau ketemu lagi, aku laporin orang tuanya, dasar tidak punya hati!” Lia kesal sekali kelihatannya.
Icha. Shinta, Ria: “gubraaak!”
shinta: “lagi lama banget si!, mau terjun ajah, pake minta maaf ma ortu segala, mana mereka dengar!”
Lia: “ya udah sih.. sepele ga pake R. mana ku juga lupa lagi bawa selimut lagi”
Ria, Icha, Shinta: “buat apaaan sarung?, mau di sunat!
Lia: “kedinginan akunya broo!”
Icha. Ria, Shinta: “gubraaaaak” *lya di gebukin rame-rame dengan golok wiro sableng!”

Kami duduk termenung, terdiam membisu. kedinginan dan menyeka air yang turun. hujan yang turun menambah beban kami, sebuah gua kecil tak mampu melindungi, aku menangis, sedih sekali. kenapa harus keluar diam-diam, “pasti kaka ketua dan yang lain sedang mencari kami?” aku marah pada diriku sendiri.
Petir menymbar di langit, hujan yang turun, hanya lampu dan senter jadi sahabat di gue ini. suasana hening, sepi sekali
Shinta: “kalau aku mati sekarang!, aku mohon kalian jangan sedih ya!” *menghapus air mata*
Icha: “kenapa kamu berpikir demikian?, kami tak mungkin meninggalkanmu mati di sini sendirian!, ga usah berlebihan!”
Shinta: “udahlah, ini bukan saatnya berdebat!” *kesal
Lia: “bukannya pikirin gimana kita keluar dari sini malah ribut terus, pusing gue dengarnya!”
Icha: “eh.. lo juga jangan ceramah deh, kan lho, yang ngajak kita jalan keluar!
Lia: “kok loh, malah nyalahin aku, terus aku harus bilang apa lagi?, kan kesepakatan kita bersama. mana ku tau di sini ada beruang, ga usah nyari gara-gara cha!”
Shinta: “hey.. udah… udah!. kok malah serius sih?, kalian bukannya kasih ide malah bikin suasana makin buruk!”

Shinta berlari ke pojokan dengan menangis, membuat Aku dan Lia saling terpana, aku duduk temenung. “ini bukan salah siapa-siapa?, tidak ada yang bisa menolong kita di hutan ini, selain kita sendiri yang harus mencari akal untuk keluar dari sini!?”
Aku, Lia dan Ria menghampiri Shinta, memeluk dan menghapus air matanya.
Terdiam dalam gerimis hujan yang mulai reda.

Setelah semua tenang
Lia: “sekarang kita kembali ke camp, usahakan untuk tidak terpisah satu sama lain, persediaan tenaga kita terbatas!”

Kami mencari jalan dan akhirnya kami berhasil keluar dari sungai, tantangan kami sekarang melewati hutan belantara ini dan mencapai camp. langit yang menghitam kini menjadi terang oleh sinar bulan. sinar bulan memberi kami sedikit harapan, rimbunnya hutan di tambah arah yang tak jelas menghambat perjalanan kami, persedia yang kurang dan peralatan yang kami bawa, membuat kami mulai hilang akal, kami mulai kelaparan, dan tak tau bagaimna mendapatkan makan, untuk memuaskam cacing-cacing di perut kami yang mulai menciut, berdemo minta makan. arah tujuan yang tak jelas, mengharuskan kami istrahat dan jalan lagi. terpaksa kami bermalam di hutan, dengan tubuh kedinginan, dan kelaparan sangat. beralaskan rumput liar dan dedaunan seadanya.
Shinta: “padahal di rumah aku tak pernah tidur di lantai, kasurku empuk, kedua orang tua yang sayang sama aku, sekarang aku tak tahu harus gimana, tidur di atas rumput, aku merasa tak berguna, aku ingin membalas cinta mereka!” Sinta menangis mengenang masa indahnya di rumah. sekarang hanya kami dan kesunyian, meratapi kesalahan yang harusnya tak perlu.
Icha: “Sinta sayang?, kamu jangan sedih, malah kami ikut sedih?”
Lia: “kamu sih enak shinta, coba aku!, tak pernah melihat papaku sejak kecil, berkali-kali aku menanyakan pada mamaku, tapi ia selalu marah dan menangis, hingga aku tak pernah menanyakannya sampai aku tumbuh dewasa seperti ini.
Ria: “udah.. udah..!. jangan bikin suasana tambah sedih, kita semua sedang tersesat, aku tahu kalian merindukan, rumah, sahabat, makanan, pelukan orang tua. tapi ini bukan saatnya!. sekarang kalian tidur!”

Aku mendekati Lia dan Shinta yang sedang menangis, Aku berusaha menghapus air mata di pipi mereka, memeluk dengan hangat, aku bisa merasakan kesedihan mereka saat-saat ini, “jangan nangis lagi Shinta dan Lia, kita pasti pulang, percayalah. kalian tidak boleh putus asa, hidup ini harus di jalani, apapun resiko dan alasan. bukan di tangisi, itu bukan pilihan terbaik, keluarga yang lengkap belum tentu bahagia, kalian harus menciptakan kebahagian itu sendiri, dari kecil aku dibesarkan oleh nenek, orang tuaku lebih memilih bisnis mereka, pulang malam, di saat aku terbangun mereka tidak ada, karena mereka telah pergi ke kantor, sedih sekali, setiap doa ku di malamku dinginku, cuma satu. “tuhan kenapa kamu menciptakanku hanya untuk menikmati kepalsuan dunia?, kenapa aku berbeda?, aku tak butuh uang di laci, aku bisa bertahan tanpa makan tapi… aku tak bisa makan kalau hatiku menangis, aku inginkan hanya pelukan hangat dari orang tuaku, tapi mereka terasa asing bagiku, rumah ini layaknya kota mati dengan penghuninya yang tak saling mengenal atau menyapa. “aku menangis lepas. air mataku perlahan menampakan dirinya di sudut-sudut mataku

Suatu malam kaka ku datang dalam keadaan mabuk, rasanya aku ingin mengusirnya, dari mulutnya keluar bau alkohol menyengat. ia merebahkan tubuhnya di kasur dan… dan tak pernah terbangun lagi esoknya, ia terlelap di malam-malam panjanganya, hanya malam dan bintang yang menemani kesunyian dalam tidur panjanganya padahal hanya dia kaka, teman, sahabat dalam hidupku, sejak itu aku mulai mengenal dunia malam. aku merasa tidak ada yang mengurusku, papa, mamaku sibuk dengan bisnis, uang dan uang, kapan mereka ada waktu untuk anaknya, mungkin saja aku bukan anak mereka?, hanya nenek yang mengurusku, tapi ia terlalu tua. tenaganya pun tak sanggup lagi membimbingku, mengenalkan aku tentang kebenaran kehidupan ini. Nenek ku meninggal. mungkin karena kelelahan, tak sanggup lagi dengan penyakit yang sejak lama mengusik raganya

mama dan papaku, bertengkar hebat di sebuah malam yang dingin itu, aku hanya dapat melihat dan mendengar dari kaca kamarku, aku bosan sekali, ini bukan pertama tapi berulang-ulang, mungkin setiap hari. membuatku semakin hancur, marah dengan kedamaian hidupku. sekarang siapa yang lebih kacau!” aku menangis memeluk pundak kedua sahabatku.
Shinta dan Lia terdiam memandangku, mereka menghapus air mata dan tersenyum padaku, “kita pasti selamatkan?” Lia memandangku. aku mengangguk tanda setuju,

Aku menguap tertidur, tapi sebuah gerakan dari dalam semak-semak beberapa meter dariku, mengalihkan perhatian Ku, Shinta berlari membangunkan Ria yang sedang tertidur. “cepat bangun ada bahaya!
Mahkluk apa yang ada di balik semak-semak?
Walau nyawa Ria masih belum sadar karena di alam mimpi. ia bangun juga dengn tiba-tiba membuat kami kaget. kami berempat diam terpaku, perpelukan menunggu binatang apa yang berada di balik semak belukar
Icha: “ya.. tuhan semoga itu bukan beruang!. semoga itu justin bibir aja ya?”
Icha, Ria, Ria: *gubraaak *Lia di gebukin pake hamer*

Kami terdiam dalam keheningan. berharap dan menanti, lima menit kemudian ternyata yang keluar bukan beruang tapi seekor kelinci. membuat kami kesal dan saling perpandangan. Aku mengedipkan mata.

“kejaaaar, hajaaar. jangan sampai lepaas!”
akhirnya kami bisa menikmati makan malam dengan kelinci panggang. kami bersenda gurai. menikmati dingin malam ini. bagiku ini sebuah kebersamaan hangat yang tak pernah ku rasakan selama ini. seumur hidupku. jangan biarkan berlalu kesempatan indah ini tuhan. “jika kita selamat, dan tua nanti ingatlah hari indah ini kawan, di sebuah malam dingin 4 sekawan dengan dingin angin malam.” kataku berbisik lirik

Sinar mentari menyilaukan mata. menerpa tubuh kurus nan bersekat, berselimut rumput liar. kami terbangun mengucek mata, tersenyum kecil dan tertawa satu sama lain tanpa alasan yang jelas.
Icha: “ha ha ha, Lia beleknya seember, tapi bagusan begitu, Biar romantis, Aku tertawa melihat Lia dengan belek dan iler mengering menumpuk semalam
Lia “ehmmm ada apa ya?” *belum sadar juga ternyata*
Ria: “aduuh, rasanya mau patah tulangku tidur di tanah, cuma beralaskan rumput, menyebalkan sekali…!” Keluh ria membuat kami tertawa.
Icha: “ssstt. aku merasa ada yang aneh!” *hening
ria: “ada apa?, ada beruang kah?” *berbisik*
Icha: “bukan tapi apa kalian tidak sadar, ke mana perginya mahkluk cantik bernama Shinta?”
“WAAAAH!” kami teriak bersamaan
Shinta: “Ada apaaaa?” jawab sebuah suara dari atas dahan pohon
*gubraaaak* ternyata Shinta sedang tidur di atas pohon* dasar anak gorila, Tempatnya ya? Di atas*
Shinta: “sori.. sori aku takut nanti beruangnya datang, kan aku pasti selamat, paling kalian yang di cicipi cipiki duluan!” shinta berkata dan turun, tapi karena kepleset akhirnya ia jatuh dengan kepala duluan menumbruk tanah.
“aaaaakkkkk!,”
Lia: “biar tahu raaasa!, kena karma karena tidak setia kawan!” kami tertawa.
“sialan kalian semua, malah tawa bukan tolongin…!”

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Entah kami di mana sekarang, yang ku tahu, kiri kanan ku pohon menjulang tinggi, dengan dahan besar di mana-mana, berkali-berkali kami harus memutar arah, karena tebing dan jurang menghalangi di depan. kami kelelahan, keringat menguras energi, lapar mulai menjalari tubuh, kami duduk termenung pada sebuah pohon oak yang rindang. kami terdiam, keadaan hening. di tanganku hanya bermodal senter yang hampir padam. dan sebuah petromak. terik mentari seakan membakar bumi

Shinta: “sekarang gimana, di mana ini kita!”
Lia: “kita terlalu jauh tersesat, persedian tidak ada, berdoa saja ada makanan datang lagi!”
Ria: “kalau aku selamat, ka… lau.. sela.. mat!”
Shinta: “ia, kenapa? Ria.?!”
Ria: “aku mau makan yang banyak banget!”
“Cuma mau bilang itu!” shinta trlihat kesal. sementara Ria senyum-senyum dengan gigi tonggosnya tanpa bersalah.
Shinta: “kalau aku mending di sini saja!” kami mengalihkan perhatian pada Shinta,
Icha: “mank kenapa? pasti karena kita ya?” aku berkata sembari tersenyum pada Lia dan Ria.
Shinta: “bu.. bukan itu kok!”
Icha: “terus kenapa SIH?!” *mulai kesal sendiri
shinta: “takut aja! takut sama hutang di warung yang menumpuk, gue kan diam-diam hutang di warung!”
Icha, Lia, Ria: “gubraaaaak, “dasar anak setaan!”
Lya: “parah..! ngapain mikirin hutang di saat begini, eror juga kamu tuh anak!” *mata merah bertanduk*
Icha: “tenang ajah, kalau selamat, aku usahakan untuk menolongmu Shinta!”
Lia: “emank punya uang?, aku juga ya!, jajan cuma 20ribu sebulan!”
Icha: “mau berapa?. dua juta?, tiga juta? *kesal
Lia: “di kasih tuh duit..?”
Icha: “Gaaa” mau duit. Ya kerja donk, enak aja loo!”

Tidak terasa sudah mulai siang, terik menyengat, kami melanjutkan perjalanan mencari tujuan, akhirnya kami sampai pada sebuah sungai. airnya jernih dan kelihatan sangat mengoda sekali untuk di nikmati. bukit terjal mengelilingi. sebuah gua terlihat mengucurkan kehangatan di sampingnya. tanpa ba. bi bu lagi. kami lari teriak kegirangan menikmati kesempatan langkah ini. rasanya sedikit mengurangi beban. kalau tidak bertemu sumber air ini mungkin kami akan dehidrasi mati kehausan, dengan bermodal alat ala kadarnya, kami memancing ikan, walau cuma 3 ekor tapi ini benar-benar membantu kami bertahan.

Kami memasuki sebuah gua dekat sungai untuk berteduh. membuat api dan memanggang hasil tangkapan. tiga ekor ikan menunda kematian kami, di saat kami beristrahat dan hendak beristrahat, dua buah mata melihat dari lorong gua yang gelap, suaranya aumannya menggema di kuping, dapat di pastikan ini beruang. “ya? seekor beruang bego, yang tak tau diri, teriak kok kencang-kencang, pelan juga kita tau itu beruang”
Lia: “kan biar dapat feelnya, ga lucu kan?, kalau beruangnya berbisik di kuping, cuma mau bilang. “di makan dulu ya kalian!” mana lucu…
Icha: “aaah, biarin!, pokoknya aku mau nyalahin tuh beruang!” *edan gila

Kami menjerit bersamaan, saling menatap satu sama lain,
Icha: “kenapa beruangnya alay banget, tidak bisa liat kita tenang sedikit ajaa!”
Lia: “saatu… duuua… tiiga!”
Shinta: “e, e, eempat!” *gubraaaak*
Icha: “lari begoo!” *Lia di seret

“lariii selamatkan diri masing-masing!” kataku menembus kesunyian.
Kami lari menembus semak belukar. seekor beruang, tinggi dengan body bak Ade namnung mengejar. kami begitu beruntung karena sedikit terobati rasa lapar dengaan ikan tadi, kalau tidak, mungkin beruang ini dengan mudah mengunyah kami bagai lolipop. Badan beruang yang besar membuatnya lari tidak begitu kencang.
“Mampussss kita kali ini, beruangnya benar-benar marah kediamannya kita buat memanggang tanpa izin, “Lia mengomel dengan napas satu, dua
“dia bukan orang, mana mungkin dia ngerti pinter kediamannya kita usik!” Shinta berkata kesal
Icha: “beruangnya mengejar bukan karena marah, tapi dia lapar bodoh!, sangat lapar!”
“kalaaau begiiittuu kita tidak akaan loloss kali ini!” Ria menimpali dengan lari semakin kencang, seperti kuda bi*al

Siang terik di bawahnya 4 manusia cantik sedang di buru, bukan memburu. kisah tentang hidup yang kasar dan penuh tangis menyusuri setapak demi setapak arah jalan hutan.
“akuuu taak mauu matii tuhaaan!” Aku teriak menembus hutan belantara. suara ku menggema terdengar ratusan kilo bait.. menyusuri sudut-sudut hutan”

Terik mentari memanaskan bumi dan juga tubuh kurus kami yang berbalut tulang dan kentut. Beruang ganas dan lapar masih mengejar. padahal Alfred, jari-jarinya sudah jadi jempol semua… Saya berpikir, mungkin beruang bodoh ini menyangka kami mengajaknya lomba lari. atau mungkin ia tak pernah belajar untuk mengalah pada mangsanya. ini alasan kenapa saya tidak pernah mau memelihara beruang. biasanya saya lebih tertarik memelihara cicak atau laba-laba dan juga nyamuk. itu karena mereka tidak pernah makan banyak dan protes ketika tidak saya kasih makan, dan memang ada sendiri di rumah (kok malah curhat, bilang ajah ga punya duit om T-T. )

Aku mulai lelah, Lia, Shinta dan juga Ria mulai terlihat tak mampu lagi bertahan. sudah berapa lama kami lomba lari dengan beruang ini, yang ku tahu aku tak sanggup lagi. berlari, apa lagi ini bulan puasa, cacingku mungkin sudah tewas mengenaskan, *(biar tau rasa tuh cacing )
Saat aku melihat ke belakang ternyata beruang sudah tak ada.
Icha: “Haaa… beruang sialan di kerjain kita, pergi ga bilang-bilang, ngapain dari tadi kita lari!” aku teriak kesal.
Icha: “hey…!’ ngapain masih pada lari, emang tidak lelah, beruangnya saja sudah tidak ada!” aku teriak menghentikan langkah kaki teman-temanku yang belum menyadari kalau beruang telah tiada.
kami berhenti, napas tersenggal, jantung memompa deras, kami kelelahan.
Shinta: “ha ha ha kasihan dia paling pulang ngadu mamanya!”
Ria: “bukan, tapi sama bu guru, emang kamu kira dia orang orang!” *kesal.

“yaaa.. teman-teman tamatlah riwayat kita.” aku berteriak sembari menunjuk sebuah bayangan tinggi, besar. Dengan cakar tajam, sang beruang berdiri mengaum di depan kami, memperlihatkan giginya yang tajam, setajam silet! air liurnya menetes, jelas ia lapar dengn penuh amarah. Kami bisa merasakan aumannya yang dapat merontokan bulu ketek monyet dan memutihkan kulit bayi gorila dan juga menggetarkan bulu hidung kami. dari mulutnya bau sekali, saya berani jamin beruang ini- jorse- (jorok sekali) karena tidak pernah menyikat giginya. (sampai sekarang gua juga belum pernah liat beruang sikat gigi, *pake pepsodent lagi)

Entah lewat mana jalannya, sang beruang telah berada di depan kami. ternyata dia menghilang hanya untuk mengalihkan perhatian kami. pintar sekali, berati kami telah dibodohi. (cucok deh :-p)
Kami berdiri ketakutan.. beruang mendekat.. berjalan dengan santai dan yakin sekali mangsanya tidak akan tertolong lagi kali ini… kami diam terpaku, pasrah. tenaga kami terkuras dan kami tidak punya kemampuan untuk melawan. tinggal beberapa meter lagi ia mendekat. jarak kami hanya 3 meter dari wajahnya.
“jangan takut aku lagi puasa kok” (coba seandainya beruang bilang kaya gini, )

Tiba-tiba entah kenapa, sang beruang melotot, seperti melihat sesuatu. berdiri Berbalik dan berlari ketakutan di semak belukar
Shinta: “a.. a.. ada, apaa?”
Icha: “ha ha ha, takut barang kali, padahal tadi mau aku kasih jurus kaki seribu aku,! *bergaya ala kungfu
Ria: “wiiiiiddiiiiihh, jurus apa tuh, kaki seribu!”
icha: “jurus kabuuurr ha ha ha!” *tertawa sambil mengepalkan kedua tangan di tanah
Lia, Ria, Shinta: “gggrrr dasar anak seeetaan!. *icha di gebukin rame rame sampai botak*

Tawa kami terhenti, sebuah tombak yang meluncur hampir melebarkan lobang hidung Ria, sedikit lagi Ria meregang nyawa, dari mana tombaak ini!”
Saat kami melihat ke belakang, mata ku rasanya mau copot, kaki kami bergoyang merinding, aku tak dapat mengatupkan mulutku, Shinta yang ikut-ikutan mangap dari mulutnya keluar laron. (di kira spitank) Lia. ingusnya naik turun kaya anak kecil minta balon. shinta.. lebih parah.. hidungnya mimisan kaya orang lagi dapat jatah bulanan, (tapi jalurnya salah)
Di belakang kami sekumpulan manusia dengan tato putih hitam menyerupai zebra di seluruh badan, rambut mereka keriting melebihi bulu ketek bencong, dan lebih mirip menyerupai bulu terlarang (tapi ga mirip rambut alfred, kalo rambut alfred, terbuat dari sejuta punut kelapa, puass… puasss!, kembali ke laptop)

Mata mereka yang kelihatan putihnya saja, leher mereka sengaja atau tidak tapi ada sebuah kalung bertumpuk dari besi memanjangkan leher mereka, ini lebih mirip leak bali. yang unik lagi. hidung mereka lebar sekali, sebesar lobang hidung gorila, (lebih dikit juga ga apa-apa). dan di tindik dengan tulang.. ukuran tulang itu yang menurutku unik kenapa?, karena panjang, mungkin 30 cm di bagi di kurang dan setelah di kali lagi di ceburin lagi ke wc.. ya mengerikan sekali. itu intinya.

Mereka menatap kami, beberapa di atas pohon, semuanya dengan tombak di tangan, menunggu untuk melempar ke arah kami, jumlah mereka sekitar 2 orang.. (gubraaaaak.)

Sekitar 200 jiwa. entah aba-aba dari mana. mereka teriak seperti orang ketakutan menjerit dan menangis.. membuat suasana di hutang lebih mirip bangsal pembantaian. lapar dan haus (oki jelly drink) membuat kami tak berdaya (kenyang kaya orang hamil juga ga mungkin lolos sich) dan seorang dari mereka, tinggi, besar, paling jelek, maju ke depan. ia menunjuk. berbicara dalam bahasa aneh. beberapa kali ia memukul kepala sendiri, mungkin karena kami diam terpaku menatap langit, barang kali di sana ada jawabnya. (teeeet… teeeeeet hayo ni lagu siapa?, ya, 100 ini lagunya Ebiet g. kaka). (“coba tanya pada rumput yang bergoyang -sampai biji matamu kendor… kepala mengebul karena kepanasan.. tidak akan ketemu jawabannya, mana ada rumput bicara. “maaf bang ebiet, cuma buat lelucon *sujut-sujut sembah”

Entah berapa lama ia ceramah. tapi yang pasti temen-temen di belakangnya. mulai menunjuk marah dan terpaksa ada yang duduk (mungkin sama seperti upacara sekolah, kalo kecapean diam-diam duduk di tengah kerumunan pasang tampang bloon dan tanpa merasa bersalah, terakhir pasang headset di hidung, eh kuping, sambil kepala goyang-goyan nyari sensasi, ya.. walau cuma headset yang tersambung karena hp mati.. atau memang tidak ada musiknya.. ciri-ciri anak sekolah yg alay habis kena ambeyen)

karena lama menunggu kepala suku mereka yang tidak berhenti merocos kaya mercon.. sebuah palu melayang membuatnya pingsan [kok bisa palu melayang. #nah mungkin itu yang buat kepala suku ini pingsan]
Mereka, membunyikan suara seperti terompet dan maju menyerang.
semua gelap… da.. dan… Apa aku sudah mati!.. aku merasa sakit seluruh tubuhku, dan lagi aku seperti melayang.. perlahan-lahan aku membuka mata

“yaaa aku sedang melayang”

kedua tangan dan kaki ku terikat pada sebuah kayu yang di topang dua orang, lebih tepatnya aku mirip seekor babi yang habis di buru, tidak manusiawi sekali, kalau lolos sudah pasti aku akan melapor ke komnasham.
“lepaassskaaan akuu!”
ke mana kami di bawah?
kenapa kami di buru?

Terik matahari membakar. lepas dari beruang malah kami di tangkap suku pedalaman yang ganas, ke mana kami di bawah pergi..?
“Hey lepaskan aku, bilangin.. mamaku nanti..!” sekeras aku berteriak dan meronta tak bisa mengalihkan perhatian mereka.
Di depanku Shinta sama sepertiku, mengantung kaya jemuran baju. di belakangku Lia dan Ria. kami seperti buruan yang berhasil di tangkap.
Shinta: “kira-kira kemana kita akan di bawa pergi?”
Lia: “hey…!, Tidak usah teriak-teriak sakit kupingku?. mungkin mereka manusia kanibal alias pemakan daging manusia…!”
Ria: “uwaah!. mampuslah kita?. hey… lepaskan dagingku tidak enak, aku jarang mandi..! *meronta
Icha: “iyaaa. mungkin kita akan di buat soto ayam, buat berbuka bersama, tolong… tolong… tolong aku orang paling cantik tidak enak dagingnya. makan saja Ria, Lia dan Shinta, mereka masih segar, liat aku kurus…!” suara ku berlari menggema di hutan. tapi mereka tidak menghiraukan.

kami di bawah melewati, sungai, gunung, laut *ga mungkin laut*
Ahirnya saya melihat sebuah pondok perkemahan. anak-anak dan istri mereka menyambut dengan. rambut kriting, hitam, bau dekil, badan di penuhi gambar hitam putih menyerupai zebra, dan lagi penampilan mereka tidak jauh berbeda dengan manusia haus darah. mengerikan!. Aku merinding, aku tak bisa berteriak lagi, suara dan teriak mereka menahan suara kami. Kami di lepaskan di sebuah kandang, tinggi, luas, sebesar kandang gorila.
Tenagaku habis tak tersisa, tubuh ku tak mampu di geraakan, begitu juga dengan Lia, Shinta dan Ria, kami tergeletak bagai manusia yang tak berpengharapan lagi. kami kelelahan sangat. mungkin sekitar 30 menit. Kami merangkak dan berkumpul di sudut jeruji kandang. kami saling menatap, terdiam piluh. air mata kami jelas belum mngering tubuh kami, bau, rambut urak-urakan. sunguh sangat kacau

Langkah kaki perlahan dan mendekat. seorang wanita cantik, putih bening.. cuma dia sendiri yang berbeda. di belakangnya beberapa orang dengan panah dan tombak dan juga pedang para pengawal yang siap sedia. Wanita itu berdiri di depan kami, melihat kami dengan kepala bergoyang ke kiri ke kanan pelan, lalu ia bangkit tertawa liar dan berbisik pada pangawalnya dengan gerakan yang tak kami mngerti. para pengawalnya terdiam sejenak, saling berbisik dan berlalu meninggalkan sang wanita, ia tersenyum dengan gigi ompong 3 di tengah, sementara gigi yang lain hitam dengan bau wc yang menyengat, membuat kami mual ingin muntah, terdengar cacing di perut teriak minta tolong. mulutnya bau sekali, benar-benar menjijikan, sungguh tak adil.. wanita yang dari luar kelihatan “wah” saat membuka mulut kelihatan “week.. hoooeeekk”
Icha: “widiih bau mulutnya sadis amat, bau got depan rumah aku nih.!”
Shinta: “mungkin ia makan anak jin!”
Ria: “mengharukan sekali, mungkin ia makan bangkai tikus sisa di tabrak mang toyib!”
Icha: “kok bisa mengharukan!”
Ria: “ya, terserah saya donk mau bilang apa?, masalah gitu buat loh!” *bertolak pinggang *gubrak* Ria di lempar bh bencong sama suku pedalaman*
Sang wanita memerhatikan dan berlalu. Beberapa saat kemudian hidungku mencium aroma yang sangat lezat. Rasanya nikmat sekali. sunguh menggoda iman. (opo maneh)

Benar saja, dari balik pintu datanglah hidangan mewah sekali. Kami seperti raja yang di beri makan, mereka memasukan makanan itu, langsung kami sambut dengan suka cita. tanpa protes. saya yakin cacing di perut sudah menunggu dengan iler seember. ini. daging apa..? entah, sudah tersedia dengan potongan kecil dan banyak sekali menu lainnya
Icha: “waduuuh mantap, kalau tau gini, mending dari awal aja kita di tangkap!”
Shinta: “baru kali aku makan dengan benar dan enak lagi!”
Lia: “aduh, kok habis makan, perut ku malah sakit!”
Ria: “dasar perut orang miskin!”
Icha: “makanya sedia promag, sama segelas air!”
shinta: “buat apa tuh!, buat jampe-jampein Lia biar ga sakit perut ya?”
Icha: “bukan pinter, biar cepat hamil!” *gubraaaak.
Ya, kalau lapar, perut melilit, minum ajah itu obat, ha ha ha (iklan)
Shinta: “dasar edan, tapi kira-kira ini makanan apa ya? ini menu kok kaya langka banget, jangan.. jangan!”
Icha: “jangan… jangan apaa?”
Shinta: “ini daging manusia!”
Lia: “jiah jangan bilang begitu, sudah aku makan!” *muntah-muntah darah*

Hampir dua hari kami di sogok makan aneh ini, dan anehnya menu selalu sama. ketika hampir sore menjelang malam kami di ikat dan di bawah ke lapangan, padahal masih kangen d jeruji ini *mau makan enak*

Di lapangan
semua orang mengelilingi nyala api besar.. teriak dan tertawa.. menunaikan upacara.. dengan jingkrak-jingkrak dan teriak mereka yang membuat suasana menjadi mencekam.
“apa yang yang akan mereka lakukan pada kami?”
mereka menyeret kami ke lapangan, dan di sebuah tempat duduk, sang wanita yang mungkin saja kepala suku.. memberi aba-aba pidato dengan suara serak, keras bagai lolongan serigala malam, kami ketakutan setengah mati, gelap suasana menusuk otak.
Icha: “teman-teman apa kalian belum menyadari!”
shinta: “menyadari apa?”
Icha: “berdoalah supaya datang keajaiban lagi, karena sepertinya kita akan di panggang di kobaran api kali ini!”
Lia: “pantas mereka menyogok kita dengan makan, mungkin biar kita tidak mati sebelum lebaran, eh harinya!”
Ria: “ya sudahlah apapun yang terjadi” *bernyanyi, belum sempat selesai di getok palu suku pedalaman*
Lia: “huaaa ha ha. kasihan banget sich Ria di getok, mungkin suaranya jelek, fals lagi, kassi…!” *di getok palu juga sama kepala suku,
Aku dan shinta menahan tawa, melihat Lia dan Ria kesakitan dengan jidat membiru bagai cupangan sang pacar, (hayo ngaku)… mau ngelucu malah kena amuk. kasihan..

Kepala suku, alias wanita itu selesai bicara, entah pidato dan pesan apa yang di sampaikan kami tidak mengerti, bahasa mereka aneh dan tak kami pahami. Kembali kepala suku duduk, dan upacara kembali di lakukan, mereka kembali mengelilingi kobaran api dan berjingkrak-jingkrak, entah upacara apa yang jelas ini bukan upacara 17 agustusan, alasannya tidak ada pembacaan UUD.. di tambah kenaikan bendera merah putih

Kami yang terikat tak bisa bergerak. Empat orang dengan badan besar, tinggi, hitam, dengan samurai dan golok menarik paksa kami, sekarang mereka lebih sadis, rambut kami di tarik dan di seret menyapu tanah beralas rumput yang bergoyang.. ini benar-benar menyakitkan. bahkan beberpa terlihat akan menikmati kami hidup-hidup. Tak sedikit yang berteriak di kuping dan meludah, menjambak dan hampir mengigitku. aku bisa merasakan kengerian mereka sekarang, kami di seret melewati kerumunan. dan di ikat pada tiang sekitar 12 meter yang di bawahnya kobaran api, mungkin mereka akan memanggang daging kami hidup-hidup?”

kami di ikat. mulai di tarik ke atas tiang. kami tak bisa bicara lagi, aku hanya bisa melihat samar-samar ke arah ketiga sahabatku Lia. Ria dan Shinta, Darah mengalir dari mata dan hidung mereka, entah apa yang telah mereka lakukan pada ketiga sahabatku.
“teman teman sampai ketemu di sorga nanti”, aku berkata lirih. menatap mereka penuh sayu.
Perlahan-lahan kami di tarik. semakin meninggi, teriak dan gemuruh suara menggemah semakin cepat. Mataku samar-samar hampir tak melihat karena keringat mengalir membuat mataku pedih, Seorang Anak kecil dari mereka berlari dari barisan belakang, menampakan ketakutan, sejenak semua mata tertuju pada lelaki hitam itu. penuh tanda tanya?

Sang wanita kepala suku. bangkit dan berteriak-teriak dengan bahasa aneh, seperti orang kesetanan. dan yang terjadi beberapa detik kemudian, semua orang yang berkerumun berlari. dan kami di lepaskan begitu saja menghantam tanah, ada apa sebenarnya?. Aku mendengar orang berlari kesana kemari tanpa ada yang peduli pada kami lagi, tangan dan kaki kami yang terikat. membuat kami tak berdaya. seperti cacing di tanah, bahkan langkah kaki mereka menginjak tubuhku. samar-samar aku membuka mata.. ternyata seekor beruang mengamuk liar mengobrak abrik semua yang di laluinya. suara teriak, tangis memenuhi tempat sadis ini.

Aku merangkak ke arah teman-temanku yang tergolek lemah, dengan sisa tenaga aku berteriak
“teman-teman. bangun! kalian mendengarku kan?, ini kesempatan kita untuk lari, Ayoo!”
Tak ada jawaban, hanya suara ribut orang berlari menyelamatkan diri.
Aku menendang mereka pelan dengan kaki ku, tak ada reaksi, mata mereka hanya kelihatan putihnya saja tanpa berkedip. darah mengalir dari hidung dan kuping, mungkin karena jatuh dengan benturan keras, aku menempel pipiku ke hidung mereka, tapi aku tak merasakan aliran udara dari hidung mereka.
“Mereka tewas?” aku menjerit, aku mendekatkan wajaku ke Lia. ada setitik harapan, napasnya masih tersisa walau tersendat-sendat. aku menanggis keras, dan mengoyang-goyangkan tubuh mereka.
Aku memandang sekelilingku.. suasana hening, mayat bergelimpangan, ini seperti kuburan masal,
apa yang telah terjadi?
Dengan sisa tenagaku aku mencoba berdiri, meronta dan memaksa untuk terlepas dari tali yang mengikat, akhirnya aku dapat terlepas juga, Aku melihat tempat ini bagai kapal pecah, seperti habis terkena tsunami hebat. Beberpa gerombolan beruang masuk kembali ke dalam hutan dengan mangsa di mulut mereka.

Aku membuka ikatan tali yang mengikat di tangan Lia. Aku menepuk pipi nya pelan, “hey lia.. bangun!” kita harus lari dari sini dari tempat terkutuk ini”
Tak ada jawaban, aku menyeretnya ke tempat sepi, di balik semak belukar, Aku tak tahu harus bagaimana, aku menekan dadanya berulang-ulang, Lia tersendak, memuntahkan darah dari mulutnya dan perlahan membuka matanya.
Lia: “ada apa denganku?”, apa sekarang kita di surga?”, aku melihat cahaya putih..?”
Icha: “ah.! lebay banget? Apanya yang cahaya?, kita masih di sini, orang-orang menyeramkan tadi entah ke mana? yang penting sekarang kita lari dari sini”
Lia: “terus bagaimana dengan yang lain?”
Icha: “lupakan mereka, saatnya kita bilang wouuw* bukan-bukan*” mereka sudah meninggal.
lia: “APAAA!,. meninggal?!” Lia terbangun dengan mata melotot tiba-tiba. membuatku takut, aku kaget setengah hati.
Icha: “kita harus kabur, sekarang, terpaksa kita meninggalkan mereka di sini?”
Lya: “(plaaaaaak)!”, apa kamu bilang meninggalkan mereka?, dasar tidak punya hati kamu. “Lia menampar dan melihatku dengan marah
icha: “ya?, sudah kamu kembali ke sana dan akan di tangkap manusia kejam itu lagi”
Tanpa mendengar perkataan ku Lia berputar dan berlari ke ara tubuh Ria dan shinta, aku terpaksa mengikutinya, walau takut ketahuan, Lia memeluk tubuh kedua sahabatku Ria dan Shinta erat-erat,,
“ria… shinta, ayo bangun mari kita buat cerita ini ending dengan bahagia..!” Sekeras Lia memanggil tak ada suara, suasana hening sekali, entah aku harus bagaimna. aku menatap Lia mencoba memeluknya, “aku tak ingin petualangan kita berakhir dengan kematian!”

Suara derap kaki secara liar mendekat, saat aku dan Lia menengok jarak di belakang kami beberapa ratus meter, segerombolan manusia berlari, Aku menarik paksa tangan Ria dan Shinta menyeret mereka ke tempat sepi, Aku dan Lia menopang tubuh kedua temanku ke dalam hutan belantara. di belakang kami manusia kanibal mencari. Aku dan Lia bersembunyi di balik sebuah batu besar, melihat mereka mengejar dan menghilang di gelap malam, Aku terkulai lemas, membaringkan tubuhku di batu besar, Ada pergerakan dari Ria dan Shinta, tubuh mereka tersendat dan memuntahkan darah dari mulut, tersadar dengan memegang kepala mereka
Icha: “terima kasih tuhan, kau telah kembalikan mereka” *menghapus air matanya.
LIA: “udah lah Icha, tidak usah di sesali lagi, sekarang kita harus istrahat dulu. Lagi pula Ria dan Shinta baru sadar. Lia memeluk tubuhku erat, aku bisa merasakan kegembiraannya Kini,

Aku, Ria, Shinta dan Lia kembali menyusuri hutan, berjalan pelan, sambil menopang Ria dan Shinta yang belum pulih. kami menemukan air terjun, kami berlari pelan menyegarkan tubuh kami, memancing dan menikmati makan ikan walau kecil dan terlelap menunggu pagi menjelang.
Ketika pagi tiba, aku, Shinta, Ria dan Lia kembali menyusuri hutan, kami menemukan perkemahan kami rusak berat. tapi tidak ada mayat, mengerikan sekali kondisinya,
“apa yang telah terjadi di sini!?” ke mana kami harus pegi!?”

Kami berjalan menyusuri jalan setapak demi setapak, aku masih ingat saat pertama harus melewati jalan ini. dan
yang harus kami lakukan sekarang adalah menemukan bantuan untuk pulang. kalau tidak?, kami akan mengering di sini, mungkin mati perlahan atau mati di buru hewan lapar. Di beberapa meter, Sebuah pohon besar menawarkan keindahannya, kami termenung sepi. hening sekali di sini, jarak kami terpisah beberapa meter. aku dapat merasakan kesedihan di hati Lia, beberapa kali ia menghapus air matanya yang mengering. membuat kecantikannya sedikit pudar oleh kesedihan. Aku mendekati dan merapikan rambutnya serta menghapus air matanya. *adegannya kaya le*bi*
Icha: “kenapa kamu biarkan air mata ini merusak cantikmu!”
Lia: “aku sedih sekali…!. *menangis, kembali menunduk
Icha: “sudahlah, kita telah melewati beberapa episode dengan menghibur teman-teman yang membaca ini, mereka pasti akan ingat kelucuan dan tingkah bodoh kita,
Lia: “bukan itu masalahnya Icha, yang cantiknya maksa banget”
Icha: “weeekk, biarin..? ada apa sich!
Lia: “aku lagi ngidam makan banyak.
Icha: “bilang aja laper!, sekarang kita harus melanjutkan kisah kita, kasihan ka alfred tangannya udah kriting, udah jadi jempol semua, cuma buat menulis ini, mata belo, karena bikin cerita ini (maksih-makasih :-p)”

Kami kembali melanjutkan perjalanan melelahkan. turun gunung, naik gunung, di tengah-tengahnya pulau jawa? membuat seluruh tubuh ku rasanya mau putus.
Icha: kenapa ya?, alfred ga munculin ajah tukang jual asongan.”
LIA: “lho kok gitu, kita ga lagi di pasar. kan!” *geleng-geleng
icha: “ya, maksudnya ada tukang jual gitu biar kita bisa beli. *ide buruk sekali*
Lia: “sekalian aja munculin peter parker, tinggal bawa kita pulang ke rumah. lalu End dengan bahagia, *hadeehh!* penulis, pemeran sama pembacanya sama steras.. *strees x ah.

Di saat kami sedang bercanda gurau, tanpa terasa kami sampai pada sebuah tempat, beberapa meter air terjun mungkin 30 meter ke bawah, beberapa meter di sebuah lembah di depan kami. sebuah perkemahan. beberapa orang sedang menggotong manusia yang mati, dan dikelilingi orang banyak. beberapa saat mereka berteriak dan berdansa. mirip sekali dengan upacara yang kami alami di tempat suku kanibal

Kami tertegun memandang dari balik pohon rindang ini. saling menatap tak mengerti. beberapa saat mereka pergi ke tempat masing-masing meninggalkan beberapa mayat tergeletak begitu saja di tanah..
Lia: “kejam sekali, apa yang mereka lakukan?”
Icha: “yang harus di tanyakan.. mayat-mayat itu memang telah mati atau memang sengaja di bunuh?”
Lia: “mungkin mereka mempersembahkan pada beruang yang di anggap dewa bagi mereka, mengerikan sekali.

Terdengar sebuah terompet yang menggema di seluruh hutan. dan keaadan menjadi sepi.. hening sekali, sampai Tiba-tiba dari dalam hutan beberapa gerombolan beruang berlari datang dan membawa mayat-mayat itu ke dalam hutan di mulut mereka, Aku menelan ludah, ternyata merekalah yang memberi makan beruang-beruang itu, pantas saja beruang-beruang itu selalu haus darah, kami tertegun menarik napas panjang dan mengeluarkan dari belakang *ampasnya ikut ga ya, bau… bau… bau.. ketahuan makannya paling singkong. *nasib orang suseh*

Saat kami menengok ke belakang, kami kaget, tak bergerak, seekor beruang raksasa, tinggi besar, menunggu kami dengan air liur yang berjatuhan, menatap tajam ke arah kami, air liurnya mengalir semakin deras, sudah di pastikan beruang ini tidak puasa.. dan ia siap menerkam kami dari belakang. belum lagi hilang rasa ketakutan kami. di belakang muncul lagi seekor beruang tidak kalah ganteng eh mengerikan sedang membaca koran, mungkin menungu temannya menyerang dan dia hanya ikut bukber (buka bareng)

Aku menepuk Tangan Lia karena kakinya gemetaran dan giginya berdetak tak beraturan. matanya melotot tajam.. padahal aku juga takut.. bagaimana tidak.. bagaimana kami bisa lolos dari binatang liar ini, kami di tiup saja sudah melayang. beberapa meter di belakang kami sebuah air terjun mengalir jatuh ke bawah dengan deras, mungkin kami akan langsung mati. jika terjun ke sana. karena tinggi sekali. tapi tidak ada cara lain. dan itu juga kalau kami berhasil lari lebih kencang dari beruang.
Icha: “tidaaaak ada cara lain, kita melompat’.. siapkan tenagamu larilah sekuatnya!” sebelum aku selesai berkati eh berkata Lia sudah berlari di ikuti Ria dan Shinta dengan jurus kaki seribu mereka.
berlari dengan begitu cepat, dapat tenaga dari mana mereka*
“heyy… tolloong…?” kataku menyusul tak kalah hebatnya berlari
LIa: “lariiii… yg kencang. bodoh!.. selamatkan dirimu.. !” *teriak.
cha: “waaaah.. siaaalaan, awaas kalian, kalau aku mati duluan aku akan menggentayangi kalian tiap malam, setaaan!” *melempar batu*

Kami berlari begitu cepat, menyusuri semak belukar, sedikit lagi di depan. sebuah air terjun. aku tak menghiraukan apa beruang mengejar atau tidak. aku menengok sebentar, “waaaahh, ternyata mereka mengejar. *lari ngengkang-ngengkang
“Uwaahhhh” terdengar suara Ria di depan. ia telah berlari mendahuluiku. saat aku dekat, ternyata ia jatuh, kakinya tersangkut batu hidungnya berdarah dengan benjol di jidat sebesar bola basket. Shinta langsung menarik temannya untuk berlari kembali.

Langkah kami terhenti.. aku menarik tangan Shinta karena hampir terjatuh ke jurang air terjun di depan kami. sebuah air terjun dengan kedalaman hampur 30 sampai 40 meter begitulah kalau di ukur dengan meteran kayu. *penggaris aja sekalian*

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap Lia, Shita dan Icha, menggandeng tangan mereka, mengangukan kepala dan..
“looooooo… nn. caaaaaaaatttt”
Semua seperti slow motion. aku melihat bibir mereka memble-memble (bahasa apa memble*dower) kaya biebir justin.
Rambut kami tertiup angin. seperti kuntilanak dengan rambut berdiri..
“Byuuuuuuuuurrr” kami tengelam. jatuh membelah aliran air. dalam sekali.. rasanya aku menyentuh dasar.. tumpahan air terjun dari atas begitu keras, menghanyutkan tubuh kurusku seperti kertas.. mataku perih, aku mencari celah untuk keluar.. pusaran air menarik tak tau arah. aku berusaha dengan sisa tenaga yang ada.. napasku hampir habis, aku seperti akan mati. cahaya putih seperti di atasku *lebay*
Pandanganku hilang, aku tak mampu lagi, ada tangan menarik. melayang dan berputar. Menarik ragaku ke permukaan. Aku tersendak, mengeluarkan air dan ikan dari mulutku *untung buka alfred yang keluar, udah kya jin 76*
Pipiku di tepuk dan aku dapat melihat Mereka dengan rambut terurai.. dengan senyum sinis padaku.
Lia: “udah bngun?, jangan alay deh, kalau tidak, aku akan meninggalkanmu di sini”
Icha: “ia, ia, ia, ga bisa liat orang akting dikit apa?” *kesal. *bangun tiba-tiba
Shinta: “ah… alay betul nih anak!

Langit mulai malam.. mentari mulai berhenti bersinar.. kami merebahkan diri di pinggir sungai. melelahkan sekali tubuhku, sungguh ini kisah luar biasa dalam hidupku. kami kembali menysuri aliran sungai, mencari makan, Ria menemukan sebuah tombak, dengan mata runcing sangat tajam, Aku membawanya untuk perlindungan di jalan.

Sejauh kami berjalan tak ada ujungnya. Aku, Ria dan Shinta berteduh pada sebuah tempat dengn pohon besar, untuk merebahkan diri
Lia: “gimna ya keadaan di rumah?, sungguh saya rindu sekali, saya juga rindu pada ortu, apa mereka sibuk ya?”
Shinta: “ini episode terakhir kita, sungguh aku akan merinduhkan kisah ini kembali.. percayalah bagaimana juga, kita harus bisa keluar dari tempat ini?”
Shinta memengang tangan Lia. “apa pun yang terjadi berjanjilah kau tak akan meninggalkanku?”
Lia: “memang kenapa Shinta, sudah kaya le*bi nih kita? Nanti beruangnya cemburu”
Shinta: “ha ha ha, ada-ada aja!” sampai beruang cemburu, anak seetaan, pede gilee” Kami tertawa liar

matahari telah menghilang, di gantikan bulan. di sini begitu sepi, deras tubrukan air sungai, sedikit suara binatang malam. indah sekali, terasa sangat kurang di malam dingin ini.. tak ada pencahayaan.. tak ada makanan.. hanya pertolongan. ku harap tombak ini dapat menolong kami.

Ria: “cepat sembunyi, bahaya!” *berbisik
Ria menarik tangan Icha dan kami bersembunyi di celah batu.
beberapa orang Manusia sekitar 10 sampai 15 berjalan di atas air terjun. suara mereka tak jelas, namun mampu membangunkan binatang malam, cahaya obor di tangan mereka dan tombak, mungkin mereka pemburu.
Lia: “tooo… loong… tooo…” aku cepat-cepat membungkam mulut Lia dengan sepatuku.
Icha: “dasar tolol, mau mati yua!” ngapain minta tolong, sudah pasti mereka orang jahat.. aduuh… mampus kita, tuh liat mereka behenti” *menunjuk
Cahaya obor mereka berhenti, hening. mereka kembali melanjutkan jalan mereka. aku menarik napas dalam. “untung ga ketahuan”

Kami akan keluar, namun Shinta sekarang yang menarik tanganku untuk bersembunyi.
Shinya: “awas.. cepat..!, aku melihat seekor beruang mendek… t”
sebelum la melanjutkan kata-katanya, sang beruang telah menemukan persembunyian kami, matanya seakan menyala, beruang tak memberi kami waktu berpikir, ia mengangkat dan menyingkirkan batu yang menghalangi kami bersembunyi.
“huaaaaa… tolong… ”
Aku tersandung. beruang menyerang di gelap malam, sebuah pukulan dari tangan beruang mampu menghantam menghempaskan tubuh Ria. untung hanya menggores sedikit wajahnya, aku bangkit dan berlari menarik Ria, kalau tidak, sebuah cakaran lagi akan menembus tubuhnya.
Sang beruang makin marah, sebuah cakaran merobek lenganku, “aahhaccckk” lenganku kananku hampir putus. Lia dan Shinta menyeretku ke dalam hutan. Derap kaki sang beruang menggetarkan bulu hidung kami.
Tanah terasa bergoyang. jalan yang tajam dan basah. membuat kami terpojok.. kami hampir terkejar, beberapa kali sang beruang hampir menyeret bajuku. untung Lia, Shinta dan Ria memukul keras tangannya dengan kayu. serta batu di dekat mereka.
kami kembali terpojok.. kaki Lia terkilir karena terjatuh. beruang semakin mendekat. aku merasa ia akan menyantap kami, mungkin dia belum buka puasa, aku dan Lia terpojok pada sebuah pohon, ayunan sang beruang membuat dahan patah, untung kami cepat menunduk dan menghindar.. meski dahan itu hampir menimpa Shinta. membuatnya melotot
Suara beruang melolong, ia makin marah, menyerang lagi dan menjatuhkan tubuh Lia beberapa meter. Lia terhempas jauh menghantam tanah, Ria yang hendak menolong, mendapat cakaran di pelipis kirinya.
“lia bertahanlah tolong jangan mati!” Shinta berteriak, mencoba membangunkan Lia yang terkulai tak bisa bergerak.

Aku meraih tombak,.
Aku berusaha agar binatang tidak menyerang Lia, Ria dan Shinta yang semakin terpojok. kalau tidak mungkin satu cakaran lagi. Lia akan benar-benar tewas, di ikuti Ria dan juga Shinta berikutnya. aku berusaha menakut-nakuti beruang, dengan tombak di tanganku, rasanya aku tak kuat mengangkat tombak ini, tangan kananku terus mengeluarkan darah. menjalar sampai ke tulangku, mataku kunang-kunang. samar-samar akan hilang.
Beruang menyerang, ia mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi dan menyerangku yang mengusik dirinya.

Aku menacapkan tombak di tanah, mengakibatkan sang beruang melolong panjang saat tubuh yang di angkat tinggi ingin menimpaku, malah tubuh sang beruang tertancap di tombak, aku tertimpa tubuh beruang, aku tak bisa bergerak, cairan darah beruang dari tombak menyembur bagai air mancur,. tak ada pergerakan.. aku berusaha menyingkirkan tubuh sang beruang yang menimpa kakiku. aku berhasil, ternyata tombak menembus leher sang beruang hingga ke belakang lehernya. sang beruang ambruk. bagai pohon jatuh. menggema di seluruh hutan.

Ria, Shinta, terkulai lemah. sementara Lia jatuh lemas di tanah, aku merangkak ke tubuh Lia.. menepuk pipinya. “lia,! kamu jagan mati!” banguuun, jangan kamu pergi”
Shinta dan Ria merangkak mendekat padaku. “kamu berhasi. ll…?” kata Ria pelan di kupingku.
Lia tersendak “di mana ini.. apa kita di perut beruang?” membuat Kami tertawa
Aku merebahkan tubuhku di samping Lia, beruntung sekali, aku tak menyangka dapat membunuh beruang itu

Cahaya senja mengusik kedua mataku lewat jendela kamar, kepalaku terasa pusing. Saat aku membuka mataku. Aku, Ria, Shinta dan Lia sudah berada di sebuah rumah sakit. kami harus di rawat beberapa bulan karena luka yang kami alami. Kak Ketua datang dan meninju kaki Lia yang patah, sampai ia mau nangis karena kakinya memang di balut karena patah, membuat kami tertawa kencang.
Lya: “aaahh, tolong, toolong, ada manusia yang lebih kejam dari beruang!, semua mata memandang ke arah kami, tertawa begitu lepas, melihat Lia teriak. karena kakinya di tinju kaka Ketua.
Setelah di ceritakan, ternyata kami di tolong tim SAR yang kami kira suku pedalaman, “coba waktu itu mereka menemukan kami, pasti kami tidak perlu di rumah sakit ini” begitulah yang kami tahu dari kaka Ketua

Misteri Goa Bawah Tanah

ari tiga sekawan Vino, Ambar, dan Bimo berjalan-jalan di sebuah taman kota yang letaknya tak jauh dari kompleks mereka tinggal. Mereka baru saja memulai liburan sekolah yang menyenangkan.
“Vin, kayaknya kalau begini terus nggak asik deh. Nggak ada tantangan serunya nih.” ujar Ambar.
“Benar juga kamu Mbar. Kurang greget gitu rasanya. Bim, kamu kok kelihatannya nggak mood gitu sih. Kamu dari tadi nggak ada semangat nya sama sekali” balas Vino
“Enggak aku lagi mikirin yang dikatain Nael kemarin. Katanya daerah kompleks Mawar ada rumah kosong yang nggak berpenghuni dan di dekatnya ada sebuah goa yang kata orang sekitar kompleks ada hantunya” ujar Bimo.
“Ah kamu, Bim. Kayak nggak tau aja ulah si Nael. Dia kan suka ngibuli siapa aja.” celetuk Ambar
“Tapi kata temen-temen yang lain bener. Soalnya mereka sebagian besar sudah mengecek kesana dan disana ada suara-suara nggak mengenakkan. Menyeramkan.” balas Bimo
“Sekarang daripada ribut mendingan kita ke sana dan membuktikan apakah omongan Nael benar atau tidak.” Vino menengahi
“Ya udah siapa takut” kata Ambar

Mereka kemudian menuju Kompleks Mawar yang dimaksud dan mencari rumah yang di dekatnya ada goa berhantu. Dalam hati sebenarnya Ambar sangat takut tetapi karena tak ingin dianggap pengecut oleh sahabatnya terpaksa ia menyetujui permintaan Vino. Sesampainya di rumah kosong itu mereka tercengang karena rumah itu benar-benar menyeramkan. Sudah lusuh dan tak terawat. Perlahan-lahan mereka mulai memasuki area rumah itu, karena goa berhantu ada di area tak jauh dari rumah itu.
“Wah serem juga ya ternyata rumah ini. Baru lihat depannya saja sudah bikin bulu kudukku berdiri. Apalagi dalam goanya. Apa kita batalkan saja misi ini.” ujar Ambar
“Ah kamu ini, Mbar. Katanya tadi bilang nggak takut dan hanya tipuan Nael saja. Tapi kok sekarang jadi kayak orang dikejar setan gitu sih.” jawab Vino
“Sudah ributnya. Kita segera masuk ke guanya.” kata Bimo

Mereka memasuki Goa yang disebut-sebut berhantu itu. Di mulut goa mereka membaca tulisan “SIAPA BERANI MASUK IA TAKKAN BISA KELUAR LAGI”. Namun Vino dan Bimo tak pantang mundur hanya dengan tulisan seperti itu. Buktinya selama ini belum ada berita tentang orang hilang di gua ini.
Tetapi tiba-tiba terdengar suara aneh. Terkesan berat dan menyedihkan. Seperti suara mengusir siapa pun yang masuk.
“Jangan pernah kemari atau kau akan mati disini. Pergi!!!”
“Guys, suara apa tuh? Ah kok ngeri banget sih. Kita keluar saja yuk.” seru Ambar
“Nggak, Mbar. Aku mau tetep menyelidiki tempat ini. Sepertinya aku kenal dengan suara barusan. Ayo kita masuk lagi.” ujar Vino
“Iya ayo, Vin.” kata Bimo

Dalam hati ada kekhawatiran dalam hati Ambar. Bisa-bisa mereka semua benar-benar tak bisa keluar. Namun kedua sahabatnya terus melangkah masuk ke dalam goa. Ada sedikit cahaya terang dari dalam goa. Mereka perlahan-lahan mengendap-endap masuk dalam goa. Mereka melihat di sana banyak sekali mainan aneka ukuran dan ragam. Ada robot-robotan dan ada juga aneka mobil-mobilan. Eits, mereka juga melihat sebuah foto dipajang di sisi goa. Astaga foto Nael bersama seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 6 tahun. Di dekat foto itu ada juga tape recorder beserta speaker. Mereka heran dan bergegas mendekatinya.

Vino mencoba untuk menyetel tape recorder tersebut. Betapa kagetnya mereka mendengar suara rekaman yang sama persis dengan suara sewaktu mereka masuk ke goa itu.
“Kayaknya aku tau ini suara siapa. Pasti ini suara Nael yang dibuat seram agar tak ada satupun orang berani masuk ke goa ini. Tapi apa alasannya?” kata Vino menerka-nerka.
Mereka bingung melihat ini semua. Bukan hantu yang mereka temukan. Lebih tepatnya sebuah teka teki yang harus mereka pecahkan

Dari arah belakang mereka ada seseorang yang tak asing bagi mereka.
“Sedang apa kalian di sini?” tanya seseorang itu mengagetkan mereka bertiga.
“Wuuuaaaa. Eh kamu, El.” seru merek bertiga bersamaan.
“Kok kalian berani masuk sih. Padahal kalau orang lain tak kan pernah berani masuk, yaahhh tempat rahasiaku sudah ketahuan deh.” kata Nael sedikit kecewa
“Memangnya ini tempat apa sih, El? Kok kayaknya aneh gini. Ada tape recorder dengan rekaman suaramu yang dibuat menyeramkan dan fotomu bersama anak laki-laki kecil itu.” kata Vino ingin tahu
“Dulu rumah ini tempat tinggalku bersama keluargaku. Kami dulu sangat bahagia tinggal di sini. Tapi semenjak adik laki-lakiku meninggal karena sakit kanker darah, kami merasa sangat kehilangan dia. Semua tentang dia tak pernah bisa hilang dari ingatan kami sekeluarga. Jadi kami memutuskan umtuk pindah. Tapi aku ingin tempat tinggalku yang baru tak jauh dari rumah ini. Jadi keluagaku sepakat untuk pindah ke Kompleks Anggrek sekarang. Dan tentang goa ini sengaja dibuat orang tuaku agar aku dan adikku bisa bermain bersama sepanjang yang kami mau. Karena goa mainan ini permintaan terakhir mendiang adikku, Rafa. Semua mainan ini sengaja aku kumpulkan disini agar aku tetap dekat dengan adikku. Karena setiap aku tertidur di sini aku bermimpi bertemu adikku dan bermain bersama. Jadi sengaja aku beri kesan seram agar tak ada orang yang masuk dan merusak semuanya. Maafkan aku, ya. Aku sudah menakut-nakuti semua orang.”
“Kami bisa mengerti kalau kamu selama ini agak nakal dan berulah karena ada masalah dengan hati dan perasaanmu. Masih ada kami yang berteman denganmu, tak usah sungkan, berceritalah bila kau sedang ada masalah. Kami siap membantu.” kata Vino bijak
“Terima kasih teman-teman, kalian memang baik padaku.” kata Nael terharu
“Nah misteri sudah terpecahkan. Sekarang kita pulang dan makan siang bersama. Aku sudah lapar ketakutan tadi.” kata Ambar
“Ah kamu ini, Mbar. Bisa saja. Ya sudah ayo pulang dan kita ke rumahku makan bersama.” kata Bimo
“Setujuuuu” kata mereka semua kompak

Bergegas mereka kaluar dari goa misteri itu dan pulang. Adik Nael, Rafa tersenyum di balik mereka penuh ceria.
Kini misteri goa itu sudah berhasil mereka pecahkan. Liburan yang seru baru saja mereka mulai. Kira-kira apa petualangan mereka selanjutnya?

Idealis Sang Pendaki

Embun pun masih menempel di dedaunan, sinar sang mentari masih tertutup awan pagi, belum ada tanda-tanda terik hari ini. Di lapangan hijau pagi sekali sudah ramai pecinta olahraga, sibuk dengan olahraganya masing-masing. Tapi kebanyakan mereka lari-lari kecil di lapangan hijau itu, termasuk cowok berkaos putih, bercelana trening biru itu. Keringatnya membasahi di sekujur tubuhnya, tetapi tampak tak lelah sedikit pun, bahkan wajahnya memancarkan aura semangat luar biasa di pagi hari ini, dan larinya pun semakin cepat, mengikuti waktu yang telah diatur pada jam tangannya.

“Aduhh, kakiku” terdengar rintihan gadis kecil karena terpeleset saat berlari bersama adiknya, dan tepat di belakang cowok itu. Dan cowok itu pun menoleh ke belakang.

“Hei dik, kamu kenapa, kamu baik-baik saja?” tanya cowok itu sedikit kaget, lalu ia pun mendekatinya memastikan apa yang terjadi. “lututku bang berdarah, tadi terpeleset” jawab gadis kecil itu, dan adiknya pun ikut menjawab, “Kakak sih bang, enggak hati-hati makanya terpeleset”.

“Ok, tenang-tenang, abang ada plester ko’, abang selalu bawa plester setiap olahraga.” sahut cowok itu sambil merogoh tas pinggangnya, cowok ini memang setiap olahraga selalu membawa plester, balsem, di dalam tas pinggangnya. “Tahan ya? enggak sakit ko’, Cuma sedikit sakitnya, biar enggak infeksi lukanya.” cowok itu menenangkan, lalu membersihkan lukanya dengan tisu dan menempelkan plester itu ke lutut gadis.

“Enggak sakit ko’ bang” sahut gadis itu, ia pun lalu bangkit dan berjalan sedikit tertatih mencari tempat duduk yang nyaman. “Mari abang bantu tuntun kamu dik, kita ke kursi itu saja” sambil menunjuk ke arah kursi yang tidak jauh dari mereka.

Mereka pun berkenalan, perkenalan mereka cepat akrab satu sama lainnya, dan sang adik yang selalu ikut berceloteh bercampur nyeleneh menambah gelak tawa mereka.

“Oh ya, terimakasih ya bang udah membantuku, jadi enggak enak merepotin.”, “enggak apa-apa lagi, santai saja dik!”, “abang sering olahraga di sini ya? Kelihatan enggak asing deh”, “enggak sering juga sih, ya seminggu terkadang dua kali abang olahraga di sini.

Oh ya, kamu kelas berapa dik? Dan adikmu?” tanya cowok itu sambil melirik adiknya. “Aku kelas dua SMA bang, dan adikku ini kelas dua SMP”, “Sebenarnya bang aku kelas tiga SMP lho, tapi karena telat masuk sekolah dasar jadi sekarang kelas dua SMP deh, hehe”, sahut adiknya yang selalu menyahut pembicaraan orang lain.

“Dan abang sendiri udah kuliah ya? Fakultas apa dan semester berapa bang?” tanya gadis itu sedikit penasaran. “Abang semester IV, dan ambil fakultas hukum” jawab cowok itu. “Oh, anak hukum ya? Asyik dong, kenapa ambil hukum bang?” gadis itu kembali bertanya.

“kenapa abang fakultas hukum ya? Hmm, alasannya sederhana sih, karena abang tidak suka hukum, awalnya sih, makanya abang ambil fakultas hukum, agar suka, lalu belajar dengan tekun, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan untuk ke depannya ikut di barisan untuk menegakkan hukum yang benar, yang adil dan tak pandang bulu.” jawab cowok itu.

“Hihihi, panjang amat bang jawabannya, seperti gerbong kereta api”, ucap gadis itu sambil bercanda. “Lantas bang, menurut abang pribadi, bagaimana hukum yang semakin buruk akibat orang-orang hukum itu sendiri?” kembali pertanyaan dilontarkan dari gadis itu.

“Hmm, menurut abang orang-orang seperti itu bukan orang-orang hukum, tak layak sebutan itu untuk mereka, karena mereka itu yang sebenarnya penjahat hukum. Lagian abang juga masih mahasiswa, belum bisa banyak berbuat apa-apa untuk melawan mereka, hanya ikut berdemo saja ketika ada kasus-kasus hukum yang tidak adil, ikut mengkritik melalui tulisan-tulisan kepada mereka yang menyalahgunakan hukum. Dan tentunya abang lakukan bersama teman-teman kelas abang lainnya.

“Wah, aku terharu jadinya, abang idealis sekali”, gadis itu kagum mendengar jawaban dari cowok itu.

Matahari pun sinarnya mulai terik, lapangan hijau kini mulai sepi. Satu persatu para pecinta olahraga meninggalkan lapangan. Dan tiga anak manusia yang duduk di kursi itu pun bersiap-siap pulang. “Oh ya dik, kalau ada waktu kamu telpon ke nomor abang ya? ada yang mau abang bicarakan. Kamu suka mendaki gunung dik?” tanya cowok itu sambil memberikan no hpnya.

Di rumah sederhana dihiasi bermacam-macam bunga, dan ada juga berberapa pohon lumayan besar merindangi rumah ozy. Tiap sore si ozi mendapat tugas dari ibunya untuk menyiram tanaman-tanaman hias kesayangan ibunya. Si Ozi anak satu-satunya dari keluarga sederhana ini, tak heran jika hampir pekerjaan rumah ia bisa mengerjakannya, dari mulai menyapu, mengepel, bahkan masak sekalipun ia bisa mengerjakannya. Karena ia rajin membantu ibunya dan sangat patuh terhadap orangtuanya.

“Uchh, capek juga kali ini menyiram tanaman ibu, mana air keran macet-macet lagi, tapi untunglah akhirnya selesai juga, Hmm” walaupun sedikit capek aku harus tetap membantu ibu, kalau bukan aku lalu siapa lagi yang membantu ibu. “gumamku.

“Selesai menyiramnya?” tanya ibu sedikit teriak dari dalam rumah. “udah bu, baru aja selesai” jawabku sambil menggulung selang air. Setelah membereskan semua alat-alat menyiram tanaman, lalu aku masukkan di gudang belakang dapur.

Terdengar suara sms dari hpku yang ku letakkan di meja belajar kamarku, aku pun bergegas mengambil hpku, lalu aku buka pesannya, “oh, ternyata sms Wika, hmm, ternyata dia kangen juga denganku”

“Assalamualaikum Wr Wb bang.. Apa kabar? Lagi sibuk enggak bang?” isi pesan sms dari wika, gadis kecil yang manis, cantik, pintar dan penuh enerjik itu. teman baru Ozi, mereka saling mengenal ketika di lapangan hijau.

Aku pun langsung membalas sms dari Wika, “Waalaikum’salam WR WB dik, Alhamdulillah sehat. Kabarmu sendiri dik? Sehat? Abang enggak sibuk”, aku pun akhir-akhir ini terus memikirkannya, tetapi aku malu untuk smsnya duluan. Dan ternyata dia duluan yang sms aku, hmm.

“Alhamdulillah baik juga bang, oh ya bang, kemarin abang tanya aku suka atau enggak mendaki ya? Aku suka sekali loh bang, tapi aku belum pernah mendaki, dan aku ingin sekali” balas sms wika lagi.

“kamu serius dik? Yakin nih?” aku sedikit ragu dengan Wika, apa benar ia ingin mendaki ikut aku. “Iya loh bang, yakin, tapi enggak wika sendiri cewek kan bang?” balas sms wika lagi.

“Oh enggak dik, abang ada teman dua cowok dan satu cewek, pastinya mereka menyenangkan dik, kami semua mudah bersahabat”, jawabku melalui balasan sms untuknya. Aku sangat senang mendengar kabarnya mau ikut mendaki. Aku pun agak heran dengan diriku sendiri, kenapa belakangan ini aku selalu memikirkannya, teringat jelas garis senyumnya, tatapan matanya yang berbinar, semua menyatu di wajahnya yang rupawan. Rasa keingintahuaannya, manjanya saat ia lututnya terluka, sopan santunnya, ahh, sungguh membuatku tak mnegerti perasaan. Upps, jangan sampai, iya jangan sampai aku mencintainya, tak mungkin.

Suara sms hpku mengejutkanku saat aku sedang bermain dengan perasaanku. “Oh benar bang, ya udah bang, nanti aku kabari lagi. Aku mau minta izin sama ortuku dulu, kalau dapat izin, kita berangkat Sabtu depan ya bang?” balas sms wika, tampak wika sangat semangat ingin menapakkan kakinya di kerikil-kerikil pegunungan. Ia sudah tak sabar lagi menghirup udara segar alam bebas, disapa lembut oleh embun pagi di alam bebas.

“iya dek, abang tunggu kabar darimu, kalau benar jadi Sabtu depan kita berangkat, nanti kita sambung smsnya dik, udah mulai maghrib nih, Waalaikum’salam Wr Wb dik”, tak lama kemudian adzan magrib pun berkumandang dengan merdunya menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Ozi pun bergegas mandi, untuk melaksanakan sholat maghribnya, kali ini ia sholat di rumah, tak seperti biasanya yang selalu rajin ke mesjid. Mungkin karena tak sempat lagi ke Mesjid, makanya Ozi sholat di rumah saja.

“Ya Allah, ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu, Engkau yang membolak-balikkan hati ini, ya Allah bimbinglah hamba ke jalan lurusMu, jangan biarkan hambaMu ini lalai mengingatMu, ketika hambaMu mulai merasakan getaran cinta di dalam hati ini, jangan biarkan hambaMu ini diperbudak hawa nafsu, dan berikan yang terbaik untukku ya Allah, aamiin ya robbal alamiin.” doa Ozi setelah sholatnya.

Hari semakin gelap, bulan dan bintang mulai menghiasi angkasa, dan dingin pun mulai menyapa. Seperti biasa, Ozi menulis catatan hariannya. Ia suka sekali menulis dan membaca, sering kali mengurung diri di dalam kamar hanya untuk menulis. Ia tak seperti anak muda lainnya, ia menghabiskan waktu dengan hal-hal positip, dan ia dengan tegas menolak jika diajak teman-temannya untuk melakukan hal negatif, baginya waktu itu sangat berharga, tak salah jika ia tak membuang waktu hanya untuk melakuakn sesuatu yang negatif.

Terdengar suara sms hp Ozi, ia pun segera membukanya. “Assalamu’alaikum Wr Wb, bang aku dikasi izin sama ortuku, kebetulan ayah juga dulu waktu masih sekolah hobi mendaki gunung. Ketepatan deh, hheehe, makanya dapat izin gampang.”

Aku pun langsung membalas sms Wika, “Ok dik, Sabtu depan kita berangkat, nanti abang sms apa saja yeng perlu kamu bawa untuk perlengkapan mendaki gunung beserta logistiknya.”, “Ok bang sip” jawab wika. Aku pun memberitahukan kepada teman-temanku melalui sms untuk siap-siap sabtu depan naik.

Suasana kampus tidak seperti biasa, lebih ramai dan lebih sibuk dari hari sebelumnya, itu karena para siswa mengikuti ujian akhir semester. Bercelana keper hitam, berkemeja lengan panjang putih, seragam wajib bagi siswa untuk mengikuti ujian, dan jangan sesekali melanggarnya, kalau masih ingin berada di dalam kelas untuk mengikuti ujian. Para siswa sibuk dengan kegiatannya masing, ada yang sedang membaca di perpustakaan, membaca di kantin, membaca di bawah pohon bersama teman-teman yang lain, ada yang internetan di ruangan wifi, ada juga yang ngumpul-ngumpul seperti semut dan sesekali tertawa terbahak-bahak, suaranya pun sampai ke langit ke tujuh, luar biasa. Ada juga siswi yang cakep, yang berlangganan setiap jam istirahat merapikan makeupnya, ya dia adalah cewek yang tersorot oleh siswa-siswa genit, dan kalau ia lewat di depan siswa genit, para siswa genit beramai-ramai menyuitnya, cuittt… Cuitttt.. (Ya, seperti itulah kira-kira bunyinya).

Dan aku sedang berkumpul dengan teman-temanku di kantin untuk membicarakan pendakian Sabtu besok, setelah selesai ujian akhir semester. Mereka adalah: Dido, Ando dan satu lagi cewek, biasanya dia datang ke kampusku tapi kali ini dia enggak bisa datang. Dan Cuma dia yang beda kampus di antara kami, namanya Lena, dan dia juga yang paling cantik di antara kami. (ya iya lah cantik, Cuma dia sendiri cewek)

“Jadi gimana bang? Pasti kan kita naik sabtu depan? Tanyaku pada mereka, “kalau aku ok aja bang, gimana menurutmu bang Ando?” jawab Dido, dan bertanya kepada Ando, “Kalau itu kita yang atur, kalau aku oke aja” dengan semangatnya ando menjawab.

“Oh ya bang Ozi, siapa cewek yang abang bilang kemarin mau ikut?” tanya Dido penasaran padaku. “Oh cewek itu, kenalan baruku, waktu latihan kemarin di lapangan. Anaknya asyik loh, aku jamin deh kita semua akan klop. Hehe”. “baguslah bang kalau begitu, bertambah satu lagi teman mendaki kita, iya enggak bang Dido?” sahut Ando.

Teeettt… teeetttt… Suara bel tanda masuk kelas. “Udah bel bang, yuk masuk kelas bang! Biar cepat selesai ujian kita”, ajakku biar cepat bergegas, dan kami pun meninggalkan kantin menuju kelas.

Sampai di kelas ternyata pengawas ujian sudah masuk terlebih dahulu, dan soal ujian sudah diletakkan di setiap meja siswa. Dan kami pun duduk di kursi masing-masing, ketepatan kami bertiga duduk bersampingan, jadi bisa lebih mudah saling berbagi (m*ny*nt*k). Ujian dimulai, kami pun siap bertempur.

Satu jam kemudian, bel berbunyi sebagai tanda waktu ujan sudah habis. Selesai atau tidak, pengawas mulai mengumpulkan satu persatu lembar jawaban dari siswa. Kini pengawas tepat di depan mejaku, padahal satu soal lagi belum aku jawab. Huh, dengan tak rela aku serahkan lembar jawabanku kepada pengawas.

“Bang Dido, bang Ando, gimana selesai semua?” tanyaku pada mereka, “belum bang, satu soal lagi belum terisi”, jawab mereka bersamaan. “hahhaahhaahaa”, kami pun gelak tawa bersama menghebohkan ruangan kelas, semua siswa di ruangan kelas menoleh kepada kami dan serentak mereka berteriak “woiiii! berisik”, lalu kami pun keluar dengan segera, dan kami masih tertawa kecil.

“oh ya bang Ozi, si Lena udah abang kasi tau, sabtu depan kita berangkat?” tanya Dido padaku, kami sambil berjalan menuju persimpangan kampus, seperti biasa di simpang itu lah kami masing-masing memilih mobil kami (angkot).

“Udah bang, kemarin aku udah sms, dan jawabnya dia juga siap berangkat”, “mantaplah, jadi kita berlima ya kan bang?”, “iyalah kita berlima, ada lagi yang mau ikut emangnya?”, “Enggak ada sih bang, kita aja yang berangkat” sahut Ando, dan kami pun sampai di persimpangan kampus. “Baiklah bang, waktunya untuk berpisah, sampai jumpa besok”, “ok bang sipp” jawab mereka serentak, dan kami pun kembali ke rumah masing-masing.

Sampai di rumah, rumahku tampak sepi sekali, mungkin orangtuaku lagi pergi keluar. Aku pun langsung masuk ke kamar, dan merebahkan badanku di kasur, badan dan pikiranku cukup lelah terkuras oleh ujian di kampus tadi. Dan tiba-tiba aku teringat wika, kalau aku lagi sendiri, lagi termenung, Bayangannya selalu menghampiriku, seolah-olah menyapaku untuk terus terhanyut oleh bayangannya. Sungguh, aku benar-benar sangat merindukannya.

“Apakah aku harus menelponnya, untuk menyatakan padanya bahwa saat ini aku benar-benar merindukannya?” tanyaku dalam hati.

Tidak, tidak, aku tidak boleh menyatakan rinduku padanya apalagi menyatakan cinta padanya. Biarlah semilir angin ini menyampaikan rinduku padanya, walaupun entah kapan disampaikan oleh angin, dan biarlah cinta ini aku simpan dengan baik di dalam hati, walaupun sesungguhnya aku tak kuasa untuk menolak cinta itu. Iya, iya aku harus bisa menguasai dan mengontrol diriku sendiri, lagi pula terlalu ego bagiku, jika suatu nanti pelajaran di sekolahnya terganggu karena aku. “Wika aku sayang kamu, dengan diamku inilah tanda cintaku untukkmu, dan belum saatnya aku ungkapkan”, aku terus bermain dengan perasaanku sendiri, sampai tidur pun menarikku masuk ke dalam mimpinya.

Hari yang dinantikan pun telah tiba, hari Sabtu, hari yang telah dijanjikan kesepakatan bersama oleh: Ozi, Wika, Dido, Ando, dan Lena, yang sedang memikul cariel di pundaknya masing-masing, yang berisikan peralatan, perlengkapan dan logistik untuk mendaki.

“Gimana teman-teman? Siap untuk berangkat? atau masih ada peralatan, atau perlengkapan, yang belum lengkap? Bang Dido, bang Ando, kak Lena, dan Wika, siap semua?”

“Siap bang Ozi, semua beres” serentak jawab Dido, Ando, dan Lena, Si Wika tak bersuara, ia hanya diam. “Hei dik, kamu kenapa? Malah diam.” tanyaku pada Wika. “Sarung tanganku bang tertinggal”, “Oh, ya udah, punya abang ada dua, nih simpan dulu, nanti pakai ya?” aku memberikan sarung tangan, yang baru aku ambil dari tas pinggang. “Terimakasih bang Ozi, hehhe” Sahut Wika tersenyum manis.

“upps, manisnya nih anak, kalau lagi senyum” gumamku dalam hati. “Ok bang, siap kita berangkat?” Dido mengagetkanku, mungkin ia sedikit tahu tentang peasaanku sama Wika, emang sih aku seringnya curhat sama Dido, jadi dia tahu benar tentang aku.

“Siap bang, siap” jawabku kaget. “Ok, kita berangkat!” Sahut Lena sambil melangkah duluan menuju mini bis. Tak lama kemudian mini bus ini pun bergerak dan mulai melaju, ku lihat mereka sudah mulai mengantuk, satu persatu mereka kulihat tertidur. Tetapi aku tak bisa tidur, aku hanya bisa menatap gadis kecil bidadari surga yang turun dari langit, rambutnya yang lurus memanjang sampai ke bahu, menambah anggun wajahnya, sesekali ia terbangun untuk merapikan poni rambutnya karena diterpa angin.

Dan akhirnya kami sampai di kota Berastagi, tetapi kami harus menyambung angkot lagi menuju gunung Sinabung, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke sana. Tak terasa, Danau Lauh Kawar pun sudah kulihat, airnya yang hijau, tenang dan dingin mengingatkanku beberapa tahun yang lalu ketika aku dan teman-teman menyeburkan diri mengecap berenang di danau itu.

“Welcome to Sinabung Mountain brothers and sisters, and welcome to Lauh Kawar lake brothers and sisters” teriak Dido sambil membentangkan tangannya. Dan Si Lena berlari kecil menuju ke tepian danau, lalu membasuh mukannya dengan air danau itu. “wah, segar kali oi, huhhh, dingin-dingin.” ucap Lena. Ando pun menyusul lena ke tepian danau, tampak sekali kerinduan yang tercurahkan dari wajah mereka.

“Subhanallah, keren sekali bang danaunya, dan gunung itu” kagum Wika saat melihat danau Lauh Kawar dan menunjuk ke arah gunung Sinabung, ia pun berjalan mendekatiku. “Iya dik, emang keren” sahutku, sambil menatap wajahnya.

Dan tiba-tiba saja ia menoleh menghadapku, ini membuatku tak karuan. “Serius amat, ngelihatin aku bang. Ada apa bang?” wika heran. “Oh, enggak dik, enggak apa-apa dik” jawabku gugup.

‘Oi abang-abang, kakak-kakak, mari dirikan tenda, udah mulai gelap nih hari” ajak Dido kepada kami, sambil mengeluarkan tenda dari carielnya. “Ok bang” Sahutku cepat.

Dan kami pun mendirikan tenda, satu tenda untuk para cowok, dan satu lagi tenda untuk para cewek. Lalu saling berinisiatif sendiri-sendiri melakukan sesuatu, Si Dido menyiapkan menu makanan untuk malam ini, ia mulai memasak nasi dibantu dengan Lena, Ando mencari kayu bakar, untuk api unggun nanti malam, dan Wika membantuku memasukkan barang-barang ke dalam tenda.

Hari pun semakin gelap, matahari mulai tenggelam di ufuk barat, udaranya pun semakin dingin, si Wika mengambil jaket lalu memakainya, tampak si Wika mulai beradaptasi dengan alam.

“Oh ya dik, pernah nonton film ‘My Name Is Khan’ bintang utamanya Shahrukh Khan, Tau enggak adegan mana yang paling berkesan di film itu?” tanyaku, “Pernah bang aku nontonnya, tapi enggak tau bagian mana adegan yang paling berkesan. Emang dibagian mananya bang?” sahut Wika.

“Ingat benar abang adegan waktu si Khan mau sholat di daerah non Muslim, dan ada sepasang suami istri Muslim India juga, mengingatkannya untuk tidak sholat di sembarang tempat, apalagi di kawasan non Muslim, lalu Khan menjawab ‘Untuk melaksanakan sholat, bukan tergantung pada tempatnya, bukan juga tergantung pada orang-orang di sekitar itu, tetapi tergantung pada keyakinan’, kalimat ini dik, menguatkan abang saat mulai enggan untuk melaksanakan sholat, apalagi daerah seperti ini, udaranya dingin, bawaanya malas untuk sholat”.

“Ya ampun, segitunya bang?” respon Wika sambil menundukkan kepalanya. “ya udah, sholat jamaah dulu kita yuk?” ajakku. “aku enggak bawa mukena lho bang, gimana dong? “.

“bentar abang pinjam mukena dulu sama pendaki yang lain.” setelah mendapatkan mukena, kami pun bertiga sholat Maghrib berjamaah. Kecuali Dido dan Ando mereka non muslim, tetapi di antara kami keyakinan tidak dipermasalahkan dalam berteman, kami saling menjaga perasaan keyakinan teman kami masing-masing.

Beberapa jam kemudian, harum mie goreng ala chep Dido menusuk hidung kami, ditambah harum khas ikan sarden, menambah selera makan malam ini. “Waktunya makan! Mari-mari makan malam, yang jauh mendekat, yang dekat merapat” Lena menawarkan masakan chep Dido.

“makan-makan, udah laper nih,” sambut Ando, setelah menyalakan api unggun. “mantap beghh, buat lingkaran oi,” sahutku, dan wika duduk di sampingku. Kami pun makan dengan lahapnya, diterangi api unggun dan lampu sentir, malam yang cerah, bulan yang terang bertabur bintang menambah terangnya makan malam kami.

“Gimana enak enggak masakan mie goreng, dan ikan sardenku?” tanya Dido pada kami. “Enak bang Dido, tapi lebih enak lagi mie goreng kantin kampus lah. Haha:D” sahut Ando, “Yah itu mah, sayurnya lengkap, kalau ini apa adanya bang. Haha:D” jawab Dido sambil makan dengan lahapnya. “Lumayan enaklah bang, daripada enggak makan. haha” Sahut Lena sambil tertawa kecil,

“Kalau menurutku sih enak, walaupun sedikit asin ya. Tapi asinnya ini murni kan bang?” tanyaku pada Dido, “Iya murni lah, maksudmu bang Ozi, bercampur dengan keringat begitu?” jawab Dido, yang menghentikan suapan nasinya sebentar. Lalu kami pun tertawa terbahak-bahak “hahhahaahaha”.

“Eh, untuk dik wika tambuh ya? Jangan malu-malu, kalau malu-malu di sini kelaparan. Hehehe” tawar Ando sambil menyodorkan mie goreng yang ada di mangkuk. “iya dik, jangan malu-malu, soalnya kita harus makan yang cukup, agar energi kita terjaga, saat kita muai mendaki nanti” sahut Lena lagi. “Iya bang Ando, kak Lena” jawab Wika, lalu menambah nasi ke piringnya.

“jam berapa kita mulai mendakinya bang Ozi?” tanya Wika padaku, “Sekitar pukul 24:00″ jawabku. “ohh, berarti lama lagi dong, terus habis makan nih, kita mau ngapaen lagi bang?”, “Habis makan kita tidur sebentar, setelah pukul 24 kita bangun, dan siap-siap untuk mendaki” jawab Ando, “Dan jangan sampai ketiduran ya woi!” sahut Lena lagi. “pastikan alarm kita hidup” ucapku, sambil memasang alarm hpku. Setelah makan malam, kami pun masuk tenda untuk tidur, untuk menguatkan tenaga kami yang cukup melelahkan seharian tadi.

Beberapa jam kemudian, alarm hpku pun berdering sebagai tanda menunjukkan pukul 24:00. Aku pun tersentak bangun, lalu membangunkan yang lain, “Bangun-bangun woi! Bang Ando bang Dido bangun,”, “Udah pukul 24 ya bang?” tanya Dido, sambil mengucek matanya. “Iya, waktunya kita naik”.

“Haduh bang Ozi, masih ngantuk banget nih” sahut Ando, yang masih tidur juga. “Hoalah bang Ando, bangun dong! Aku juga mau bangunkan Wika dan Lena nih”, “Iya-iya” jawab Ando, yang akhirnya terpaksa bangun.

Aku pun keluar tenda, dan membangunkan wika dan Lena yang tendanya di samping tenda kami juga. “Kak Lena, bangun kak!”, “Iya bang Ozi, ini kami udah bangun.” sahut Lena dari dalam tenda, dan mereka pun keluar dari tenda. Aku sedikit kaget melihat wajah Wika, walaupun baru bangun tidur, wajahnya tetap cantik, enggak ada kusutnya sedikit pun, ya walaupun rambutnya yang panjang masih belum dirapikan, tetapi malam ini ia sungguh sangat cantik, sungguh mempesona.

“Ok teman-teman, kita siapkan barang-barang kita, kita bawa tenda satu untuk di puncak” ucap Dido, sambil membereskan perlengkapan yang akan dibawa ke puncak. Dan kami mulai membereskan perlengkapan kami masing-masing.

Lengkap sudah, perlengkapan di tubuh kami, mulai dari kaki sampai ujung kepala, bersepatu treck, berjacket tebal, bersarung tangan, bertopi yang ditambah headlight sebangai penerang, ditambah cariel di pundak kami masing-masing. Sebelum meninggalkan perkemahan, seperti biasa kami tak lupa untuk berdoa, agar pendakian kami diberikan yang terbaik oleh Tuhan.

“Baiklah, abang-abang, kakak-kakak, sebelum kita mulai pendakian ini, marilah kita meluangkan waktu kita sejenak, agar kirannya petualangan kita kali ini diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa, tundukkan kepala, dan doa dimulai menurut agama masing-masing!” ucapku untuk memimpun doa. Setelah berdoa kami pun berpelukan satu sama lainnya dan sama-sama mengucapkan sambil berteriak “Bersama kita mulai, bersama kita akhiri, huahhh” itulah motto kami.

setelah itu kami menuju posko pendaftaran, untuk mendaftarkan diri di posko itu. Setelah mendaftarkan diri, kami pun memulai pendakian kami dengan penuh semangat.

Kami pun mulai menyelusuri hutan kecil di kaki gunung Sinabung, dan mulai masuk di pintu rimba. “Untuk semua teman-teman, kita sudah memasuki pintu rimba, diharapkan untuk semua lebih fokus lagi, dan kalau ada yang capek bilang ya? Biar kita istirahat, dan jangan terlalu memaksakan diri, karena itu beresiko” Dido memberikan sedikit arahan dari depan. Dia yang memimpin menapak, yang ke dua Lena, setelah itu aku, wika di belakangku, dan Ando paling belakang menapak, jarak kami dua meter dari yang lainnya. “Sipp bang Dido” jawab kami serentak.

“Seram juga ya bang hutannya, mana dingin lagi, oh ya bang pendaki yang lain mana ya? Ko’ cuma kita aja.” ucap wika padaku, “hutan mana ada yang enggak seram dik, kalau enggak seram itu namanya taman, hehee. Pendaki yang lain mungkin di atas dik, mereka mendaki duluan.” sahutku sambil terus melangkahkan kaki di tanah yang lembab dan berair.

Kami terus melangkah, udara yang dingin pun kini kami rasakan menjadi panas, karena keringat yang terus bercucuran dari tubuh kami.

“Kalau panas, dibuka aja jaketnya dik Wika!” ujar Ando, sedikit memberikan arahan, “iya bang Ando” sahut Wika. Tak hanya Wika yang melepaskan jaketnya, kami pun semua melepaskan jaket kami masing-masing. Setelah berhenti untuk melepaskan jaket, kami pun kembali menapaki tanah yang lembab, tanah yang licin, yang dijalari akar-akar pohon yang membuat kami sesekali tersandung.

“Oya bang Ozi, di sini enggak ada binatang buas ya? Maksudnya seperti harimau, singa, atau ular besar?” tanya wika padaku, “sepertinya enggak ada deh dik, selama kami mendaki belum ada melihat binatang seperti itu, mendengar dari pendaki yang lain pun belum ada dik. Tapi kalau di gunung Leuser mungkin ada dik, karena abang pernah membaca beritanya.” Sahutku.

“Oh enggak ada ya bang. Gunung Leuser, suka banget lho bang gunung Leuser, pengen banget mendaki ke sana. Kabarnya gunung yang terindah di puncak Leuser ya bang? Diantara gunung-gunung pulau sumatera ini” tanya wika lagi, “Abang dengar pun seperti itu dik, tapi dik kalau kamu yakin ingin mendaki gunung Leuser, daki dulu gunung-gunung yang medannya tidak terlalu berbahaya. Mendaki gunung itu bertahap dik, enggak langsung tunjuk gunung ini, gunung itu, untuk didaki. Karena kita harus benar-benar siap mental, fisik, sedikit pengalaman, dan selalu belajar mengontrol diri, maksud abang menaklukkan diri sendiri.” jawabku, sekaligus memberikan keterangan untuk Wika.

“Iya dik benar kata bang Ozi, seperti yang dibilang Sir Edmund Hillary ‘bukan gunung yang ditaklukkan, tetapi diri sendiri yang ditaklukkan’.” sahut ando dari belakang. “Oh seperti itu ya bang, iya bang aku paham.” ujar Wika, sambil menganggukkan kepalanya.

Brakk, terdengar suara cukup keras dari depan, seperti suara menubruk. “Aduh woi, jidatku berdarah” rintih Dido. Lalu kami mengejar Dido, kami lihat jidat Dido berdarah cukup banyak karena terbentur batang pohon. Kami menjadi panik, tetapi bagaimanapun kami harus menghentikan darah yang terus mengucur dari jidat Dido.

“Ini bang ando kasi bethadine dulu, setelah itu diperban lukanya.” ujar Lena kepada Ando, sambil mengeluarkan kotak P3K dari carielnya. “iya-iya sini cepat” sahut ando sambil membersihkan darah dijidat Dido. Dan aku membantu Ando menangani luka dijidat Dido. Setelah kami bersihkan luka itu, lalu kami beri bethadine, dan setelah itu kami perban jidat Dido. Dan akhirnya, sukurlah darahnya sudah mulai berhenti.

“Kenapa bisa sampai nubruk batang pohon bang?” tanyaku pada Ando. “mataku kurang jelas memandang bang, apalagi malam.” jawab Dido sambil menegakkan kepalanya. “hoalah bang bang Dido, bang Dido. Enggak bilang dari awal, biar aku mimpin jalan.” sahutku.

“Jadi gimana nih bang Dido, lanjut pendakian kita?” tanya Ando, “pasti lanjutlah, emang ada apa?” jawab Dido tegas, sambil mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya ke atas. “Yakin bang Dido?” tanya Lena lagi. “Iya lho abang-abang, kakak-kakak, aku enggak apa-apa” sahut Dido, sambil berdiri membuktikan kepada kami bahwa ia baik-baik saja.

“baiklah bang Dido, kalau seperti itu.” sahutku. “Bang Dido ini cokelat, nah makan!” ujar wika pada Dido, yang baru aja diambil cokelat dari carielnya. Lalu Dido pun memakannya, dan membagikan kepada kami semua.

“Dik kamu tau, seseorang yang jatuh tersungkur, dengan cepatnya ia kembali tegak, lalu melangkah lagi? Itu karena impian dik. Sama halnya dengan pendakian kita ini dik, impian kita adalah kita harus sampai di puncak. Nah, walaupun abang udah luka jidat abang ini, itu tidak membuat semangat abang kendur dik, bahkan semangat abang malah menambah, seperti api yang disiram bensin” ujar Dido, sambil berdiri dan memakai carielnya.

“yuk jalan lagi” Dido memberikan arahan. “Uppsss, tunggu dulu bang Dido, biar aku yang mimpin jalan, kita ubah formasi kita. Aku yang pertama jalan, lalu Wika, berikutnya Bang Dido, berikutnya kak Lena, dan bang Ando tetap seperti semula.” ucapku.

Lalu kami pun melanjutkan pendakian kami. Berjalan di atas batang pepohonan yang tumbang, dan sesekali kami harus merayap di tanah yang lembab dan basah, karena jalan setapak itu terhalang oleh batang pohon yang kelihatan baru saja tumbang.

“Teman-teman semua, diharapkan lebih fokus lagi karena medannya cukup sulit, banyak pohon yang baru saja tumbang” ujarku, sedikit memberikan arahan untuk teman semua. “Oke bang Ozi.” jawab mereka serentak. “uhh, sial, senterku mendadak mati.” rintih Wika, sambil mengotak-ngatik senternya.

“Kenapa dik? Rusak ya? Coba bang lihat.” sahutku, lalu mengambil senternya dan aku coba periksa. “dik, bola lampunya rusak.” kamu pakai senter abang aja, biar abang pakai senter mancis.” sahutku lagi. “Biar aku yang mimpin jalan bang Ozi” sahut Ando dari belakang. “ok bang”. Lalu kami pun bertukar posisi, sekarang aku yang di belakang. Kami pun melanjutkan pendakian.

Kami kembali melanjutkan pendakian, lelah yang menyinggahi raga kami, tak kami hiraukan, karena impian kecil kami menggapai puncak. Kami terus menapaki jalan setapak itu, sampai kami berhenti saat gerimis mulai menetes di atas kelapa kami.

“Kita berhenti sejenak ya? Mulai dingin nih, kita ngeteh dulu gimana?” Ando menghentikan langkahnya, lalu mengeluarkan peralatan masak dari carielnya. “Setuju-setuju” sahut Lena kecil. “istirahat di sini saja, tanahnya cukup datar dan tidak terlalu basah” Dido mengarah tanah itu. Kami berhenti sejenak, untuk menghangatkan tubuh kami dengan membuat teh.

“Oh ya dik, kamu suka sama bang Ozi ya, dari titik matamu, dan garis senyum di wajahmu saat menatap bang Ozi itu beda sekali? Jangan boong deh!” bisik Lena ke telinga Wika. “Hm, gimana ya? Ada benarnya sih. Tapi..”, “Tapi apa dik?”, “Tapi mana mungkin kak, abang Ozi itu cowok yang baik, taat beribadah, mana mungkin merespon cewek seperti aku, sedangkan aku pakai jilbab aja enggak.” bisik Wika lagi. “Ah, hati enggak ada yang tau lho, apalagi bang Ozi, terlalu apik menyimpan perasaan.

“duarrrr, bicara apa kalian hah, nih minum tehnya, kongsi aja ya? enggak cukup cangkirnya” Dido mengagetkan mereka, sambil menepuk pundak Lena. “ihh, resek banget deh bang Dido. Tapi thaks tehnya, hehe” ucap lena sambil meminum teh hangat itu.

“mantap tehnya bang dido, bibirku pun tak lagi biru, benar enggak bang Ozi?” puji Ando, sembari menyodorkan secangkir teh itu padaku. “hmm, iya bang mantap.” pujiku lagi. “Haha, kalian bisa aja, kalian muji gini biar aku terus ya, masak dan buat teh?” sahut Dido. “Hehe, enggak lho bang, emang benar ko” aku tertawa kecil.

“Oh ya bang Ozi, lama lagi sampai ke puncak? Tanya wika, sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya, tampak ia sedang kedinginan. “Enggak dek, paling sekitar tiga jam, kalau kita enggak ada halangan, kenapa dik? Kamu letih?” sahutku, sambil melihat ke arah jam tanganku.

“Ah, enggak ko bang, cuma nanya aja, oh ya bang Ozi, ngomong-ngomong pacar abang suka naik gunung juga ya?” tanya wika penasaran. “Pacar? Hehe, pacar abang itu ya mereka bertiga ini” sambil menunjuk Dido, Ando dan Lena. “enggak ngerti Wika bang, maksudnya?” tanya wika lagi, dengan mengedepankan wajahnya lebih dekat. “haha, maksud abang dik, abang enggak pacaran, tetapi berteman, karena berteman lebih baik dari pacaran, bahkan jauh sekali kebaikannya. Ngerti, maksud abang?” jawabku, sambil tertawa kecil. “Oh, seperti itu” wika mulai mengerti.

Gerimis mulai reda, dan teh di cangkir pun sudah mengering. Kami pun membereskan peralatan kami untuk kembali menyelurusi menggapi puncak Sinabung. “Ayo kawan-kawan, kita kembali melangkah” Ujar Ando, yang memulai melangkah.

Mendaki terus, terus mendaki sampai medannya pun berganti, tanah yang lembab, sedikit berair, dijalari akar-akar pohon, dan sesekali merayap di bawah pohon yang tumbang, sudah kami lalui. Kini kami dihadapkan dengan medan bebatuan yang keras dan cadas, sebagai tanda sebentar lagi kami berada di puncak.

“Bentar lagi kita sampai, lebih hati-hati lagi, karena takutnya ada batu yang menggelinding” sedikit arahan Ando. “Ok bang” jawab kami serentak. Di medan bebatuan ini, kami tak lagi seperti berjalan tetapi sudah seperti memanjat, karena bukan lagi horizontal yang kami hadapi, tetapi sudah hampir vertikal. Kami pastikan batu yang kuat sebagai tumpuan kami, karena jika batu itu tidak kuat, itu bisa membuat kami beresiko fatal, dan menggelinding bagaikan batu.

“Sini tanganmu dik, biar abang bantu” Ando menjulurkan tangannya untuk Wika. “Iya bang” sahut Wika, nafasnya mulai terengah-engah. “Hati-hati ya dik!” sahutku dari belakang, “ok bang Ozi” Wika menoleh ke belakang sambil memainkan mata padaku yang sedikit tertutup oleh rambut panjangnya.

“Ya Allah, aku sangat menghawatirkannya, jaga keselamatannya, aku tidak mau ia terjadi apa-apa.” doaku dalam hati, dan sesekali aku melihat wajahnya yang kelihatan sedikit pucat. “Bang Ando kita berhenti sebentar, betisku keram” keluh Wika, sambil mengusuk betisnya. “ok, kita berhenti” Ando memberikan aba-aba. Lalu aku mempercepatkan diri untuk mendekati Wika, dengan sedikit cemas.

“Kenapa kamu dik?” tanyaku, sembari melepasakan carielku. “betisku keram bang Ozi.” jawab wika, yang terus mengusuk betisnya dengan balsem. “hm, ya udah kusuk aja terus dik” sahutku

“Kakak juga pernah seperti itu dik, waktu pertama kali mendaki. Iya kan bang Ozi?” ujar Lena, sambil membantu Wika memijit-mijit kakinya. “Iya dik, benar. Nanti hilang itu keramnya, kalau sudah dipijitin terus.”, “iya bang, kak” sahut Wika.

“Subhanallah, indahnya taburan bintang itu, dan lihat kerlap-kerlip lampu kota itu, tak pernah kubayangkan sebelumnya,” kagum wika dan menghentikan pijitan kakinya. “hah, baru sadar! Kamu dik.” tanyaku heran. “Hehe, iya bang dari tadi aku ketakutan terus, jadi aku enggak terlalu memandang terlalu jauh, aku hanya menatap batu-batu di depan mataku aja,”

“Nanti kalau kita udah di puncak, lebih indah lagi dik apa yang kita lihat. Karena jarak pandang kita tak terhalang. Semangat ya!” ujarku, seraya menepuk pelan pundak wika. “Ok deh, yuk lanjut lagi!” sahut Wika, dan ia kembali tegak.

Kami pun mulai melanjutkan pendakian yang sebentar lagi sampai di puncak. Semakin tinggi keberadaan kami, semakin dinginlah udaranya, dan semakin kencang pula angin yang menghadang kami.

Beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai juga di puncak Sinabung. Perjuangan yang kami lakukan kini sudah dibayar dengan keindahan alam. Tampak dengan jelas sekali kerlap-kerlip lampu kota Medan, kerlap-kerlip lampu kota Berastagi. Bagaikan ribuan kunang-kunang yang beterbangan. Dan cahaya bulan cukup terang, ditambah dengan kerlipan bintang yang berserakan di lagit gelap sana, menambah keindahan alam yang tak mungkin bisa dilihat dari jendela kamar.

“Kita sudah sampai dik, selamat datang di puncak Sinabung!” ucap Ando, sambil membentangkan tangannya. Sudah kebiasaan Ando, dengan gayanya yang khas ia pun melepaskan baju, lalu menghisap rokoknya, setiap sampai di puncak.

“Ya Allah, Subhanallah, indah sekali ciptaaMu Tuhan. Tak pernah aku bayangkan seperti ini.” kagum Wika, saat ia merasakan keindahan yang luar biasa di atas puncak. “Indah ya dik? Itu makanya dik, abang selalu merindukan momen seperti ini, yang pastinya enggak akan abang dapatkan di kota sana.” ujarku sambil mendekati Wika.

“akhirnya kita sampai juga di puncak. Woiiiii!” teriak Dido. ” yess, aku akhirnya bisa kita tebus kerinduan ini.” sahut Lena.

Dan kami pun saling tos satu sama lain, lalu berpelukan bersama-sama sebagai tanda “semua itu karena kebersamaan kami”. Lalu kami mendirikan tenda, karena dinginnya luar biasa, sambil menunggu sinar mentari yang akan menghangatkan tubuh kami.

“Udah berdiri nih tendanya, sini woi masuk! Jadi patung es nanti kalian di luar sana” ajak Lena menyuruh kami masuk. “ok Len, yuk masuk dik, nanti kita lihat lagi dik, saat sang surya menyambut kita” ucapku, dan mengajak Wika masuk ke dalam tenda.

“tunggu-tunggu dulu, kita foto bareng dulu bang! Dengan background lampu kota Medan, bang Ando tolong ambilin foto kami dong” ujar Wika, sambil mengeluarkan kamera pocket di kantong kecil carielnya, dan ia pun memanggil Ando, “Ok bisa” sahut Ando cepat. Dan kami pun mengabadikan momen itu difoto.

Lalu kami masuk ke dalam tenda, menunggu sunrise seperti pendaki-pendaki lainnya. Untuk menghangatkan tubuh kami, Dido pun menyuguhkan teh dan beberapa potong roti tawar yang sudah diolesi selai untuk kami.

Waktu terus berlalu, momen yang dinantikan pun muncul. Sang surya sedikit malu tertutup awan tipis, Sinar orangenya yang kekuning-kuningan membelah kesepian di awan ufuk timur.

“Woi, lihat! Sunrise.” teriak Ando dari luar Tenda. “udah bangkitkah sang raja siang” sahut Lena. Kami pun segera keluar.

“oh my God, amazing” kagum Wika yang kesekian kalinya, ia pun duduk manis menatap kelembutan sinar raja siang. “cantik dik, mataharinya? Oh, ya boleh bang duduk?” aku pun duduk di samping Wika. “iya bang, cantik sekali. Tentu aja boleh, sini duduk bang.” sahut Wika, sambil menggeser duduknya.

Dido, Ando, Dan Lena, mereka mengambil foto bergantian berlatar belakang Sunrise. Dan aku duduk manis bersama gadis kecilku.

“Bang Ozi, Wika, senyum dong! Biar aku ambil foto kalian berdua” teriak Lena, sembari mengarahkan kameranya mengarah kami. “ok, sipp” jawab kami serentak”. Kami pun difoto oleh Lena, dengan senyum terbaik yang aku berikan.

“Oh ya bang, ada sesuatu untukmu, ini udah aku siapkan waktu kita mau berangkat. Tunggu bentar ya?”, “Apa itu dik?” , “lihat aja deh.” Wika pun masuk ke tenda untuk mengambil sesuatu.

“Buka bang kadonya!” ucap Wika, “apaan nih dik?” aku sedikit bingung, dan membuka kado itu. Oh, ternyata tas pinggang Eiger. Tas pinggang salah satu asesoris yang aku sukai.

“Hei dik, kamu kenapa tau abang suka tas pinggang?” tanyaku heran. “ada deh, mau tau aja. Hehe, tapi abang suka kan?”, “iya abang suka sekali, tapi kan ini mahal?”, “santai aja lagi bang” sahut Wika enteng.

Aku sungguh terkejut saat gadis kecil ini membuat suprise di puncak, sungguh tak bisa aku lupakan. Aku hanya diam, menatap bening matanya yang jeli, pipinya yang putih bak pualam, hidungnya yang tak terlalu mancung, dan bibirnya yang tipis, semua indah menyatu di wajahnya.

“bang Ozi, abang enggak ada yang mau diucapkan untukku, mengenai perasaan abang?” ucap Wika, dan menatap serius mataku. “a . a pa ya?” jawabku gugup. Aku mulai mengerti perasaan Wika terhadapku, tapi enggak mungkin aku ucapkan ‘I love U’, lalu nembak dia, terus jadian, dan akhirnya kami pacaran. Tidak, tidak mungkin itu terjadi. “ya Tuhan tolong hambaMu, tunjukkan jalan yang lurus” doaku dalam hati.

“Bang Ozi, tau enggak sebenarnya aku menunggu ucapan yang terindah dari mulutmu bang?”

“Dik, kamu masih terlalu muda untuk memahami cinta, di usia muda sepertimu, kamu akan kesulitan memahami cinta. Bukan berarti abang melarangmu untuk mencintai seseorang, walaupun itu termasuk diri abang. Dan abang mengerti benar, mencintai dan saling mencintai itu manusiawi sekali, cinta juga tak bisa ditolak ketika ia singgah di hati manusia. Tetapi dik, kamu juga bisa menyesuaikan dengan keadaanmu, karena cinta yang sesungguhnya tidak seperti yang kamu bayangkan, cinta itu bukan sekedar kata ‘I love U’, lalu jadian, setelah itu pacaran, bukan dik, bukan itu, jauh seperti yang kamu bayangkan. Cinta itu hanya dalam ikatan pernikahan dik” jelasku pada Wika.

“Aku mengerti bang, walaupun saat ini masih belum bisa aku terima.” sahut Wika dengan wajah sedih.

“ada yang lebih penting dari semua itu dik, yaitu pelajaranmu, karena pelajaranmu ini adalah masa depanmu, jadi bukan cowok masa depan itu. So, kalau mau sedih, sedih karena pelajaran bukan sedih karena cowok, hehe. Yuk gabung sama yang lain!” ujarku sambil berdiri.

“Wika, andai kamu tau sebenarnya hati ini, kamu mungkin tak sedih seperti ini” gumamku dalam hati.

“iya bang, yuk bareng mereka” sahut wika. Dan kami pun bergabung dengan yang lain, lalu kami mengabadikan momen-momen di puncak Sinabung dengan foto narsis kami. Aku lihat Wika kembali menggariskan senyum, bening matanya yang berkaca-kaca tadi pun telah hilang. Kini ia tertawa bersama teman-teman yang lain.

“Laper nih, masak mie yuk!” ajak Lena. “Kali ini yang masak jangan aku lagi ya?” sahut Dido, sambil berpose yang difoto oleh Ando.

“iya, tenang aja, aku yang masak ko’ sama Wika, iya kan dik?” sahut Lena. “siip kak” jawab Wika. Mereka pun mulai memasak mie.

Beberapa menit kemudian, mie yang dimasak Lena dan Wika akhirnya siap untuk disajikan. “Abang-abang, mari sini, udah masak nih mie” teriak Lena. “wah, cepat bener.” sahut kami, lalu kami pun menuju tenda. Segera kami lahap mie buatan Lena, karena perut sudah lapar.

Tiba-tiba hpku berbunyi, tanda sms masuk, lalu aku baca. “Ozi, kalau sudah selesai mendaki, langsung pulang ke rumah ya? Karena pernikahanmu dengan Zahra dipercepat. Ini semua karena memenuhi permintaan Ayah Zahra yang meninggal beberapa hari yang lalu. Dan keluarga zahra sekarang di rumah.”

“Innalillahi Wainna Ilaihi Roziun, Ayah Zahra meninggal.” ucapku sedih. Tanpa kusadari, hpku pun terlepas dari genggamanku. Lalu Wika membaca sms itu karena penasaran.

“Zahra siapa bang?” tanya wika penasaran. “Zahra itu saudara jauh abang, dan kami telah dijodohkan setahun yang lalu, oleh kedua orangtua kami.” jelasku.

Kembali mata wika berkaca-kaca, lalu air matanya pun mengambang di pipinya. “Jadi bang, kamu akan segera menikah dengannya?” tanya Wika sambil menangis. Dan lena pun mengelus-elus kepala Wika sembari berucap “sabar ya dik, kamu harus kuat!”, “Iya dik, kamu haru bisa” dukung Dido dan Ando.

“Abang juga enggak tau dik, bagaimana ke depannya. Semua abang serahkan pada Allah, abang hanya mengikuti skenario aja.” jawabku. Mendengar jawabanku, Wika pun keluar tenda, dan berlari ke tepi jurang. Lalu aku mengejarnya untuk membuatnya tenang.

“Dik, kamu harus paham, apapun terjadi dalam hidupmu, itu adalah yang terbaik untukmu. Tinggal saja, bagaimana kamu menghadapinya dan belajar dari kesalahan yang lalu.” jelasku sambil menghapus air matanya yang menetes di pipinya dengan tissu.

“tapi bang, apakah kita bisa berkomunikasi lagi? Kalau abang sudah menjadi suaminya” tanya Wika. “Ya tentu boleh dik, kak Zahra perempuan yang baik. Nanti abang kenalkan sama kamu.”

“Iya bang” ucap Wika dengan senyumnya yang terpaksa. “Nah, begitu dong, jadi anak yang baik ya” Ucapku sambil mengelus rambutnnya. “Iya bang, semoga aku kuat.”

Tak terasa, sinar matahari pun mulai memanas. Waktu menunjukkan pukul 10:30, kami pun harus kembali turun, karena kerinduan kami telah terbayarkan.

“Oi.. Bang Ozi, Wika, turun yuk!’ udah panas nih” teriak Lena dari tenda. “ok, sipp” jawabku.

“Oh ya bang, mungkinkah kita bisa mendaki bersama lagi?” tanya Wika. “Kenapa enggak. Ya bisa lah. Ya udah yuk kita siapkan barang-barang kita, biar kita turun.” jawabku senyum. “Oke deh bang” jawab Wika sambil memainkan matanya.